CATEGORY : Kajian

Mandiri Menolak Diskriminasi

25 March 2016 0 0

Kepala Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI, Irwanto mengatakan, hingga kini pendataan penyandang disabilitas di Indonesia masih bermasalah. Hal ini terlihat dengan tidak adanya

PELAJARI LAGI

Informasi dan Jaringan Internet sebagai hak

21 March 2016 0 0

  Berto Tukan, redaktur Indoprogres, pernah mengeluh kepada saya. Harga paket internet telkomsel untuk Indonesia timur terlalu mahal. Tidak sebanding dengan harga yang ada di Jawa. Ia mengkritik terjadi ketidakadilan dalam pengenaan harga. Masalahnya, harga yang mahal itu tidak diikuti dengan layanan jaringan yang baik. Di Indonesia timur, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua jangan harap bisa mengakses internet di desa terpencil. Berbeda dengan di Jawa, bahkan di gunung pun ada jaringan dan di sebagian besar pelosok desa di Jawa bisa mendapatkan layanan jaringan internet dengan mudah. Jika ini benar, harusnya logika layanan dan harga diberlakukan terbalik. Untuk layanan akses yang mudah, diberikan harga yang mahal, sementara yang susah dan jarang ada diberikan harga yang murah. Jaringan internet di Jawa tentu lebih mudah daripada pelosok pedesaan di pulau Buton misalnya. Di Indonesia timur internet hanya bisa diakses di kota-kota besar, di pelosok desa anda akan susah mendapatkan sinyal.

Jangankan

PELAJARI LAGI

Sistem Kabel Komunikasi Laut (SKKL) di Indonesia

18 January 2016 0 0

  Infografis di atas disusun sebagai salah satu upaya menginformasikan pada publik berbagai sistem komunikasi kabel laut (SKKL) yang dimiliki operator telekomunikasi di Indonesia. Dalam upaya menyusun data untuk infografis di atas, penulis memperoleh data tentang operator telekomunikasi mana yang mendapatkan hak labuh dari siaran pers di situs Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo). Lalu, mengenai data tentang kelebihan kabel laut dibandingkan dengan satelit, penulis mendapatkan sumbernya dari situs luar negeri seperti The D Networks dan Mentalfloss. Kedua situs itu menjelaskan bahwa kabel laut memiliki daya laten dan daya transfer yang lebih baik di banding satelit. Untuk rute kabel komunikasi bawah laut, penulis dapatkan dari laman Submarinecablemap. Informasi tambahan mengenai proyek kabel laut komunikasi yang dikembangkan oleh operator telekomunikasi, penulis dapatkan dari laman ardisragen, beritasatu, dan situs resmi Indosat. Penulis juga memperoleh data dari Laporan Tahunan Telkom, Indosat, dan XL Axiata yang semuanya terbit di tahun 2014. Semua dokumen laporan tersebut penulis dapatkan di situs resmi masing-masing perusahaan. Selama meriset tentang SKKL di Indonesia, seluruh data dan informasi penulis dapatkan dari berbagai laman situs yang menyediakan data tentang kabel laut. Kesulitan yang dirasa selama mencari data adalah tidak tersedianya laman basis data berbahasa Indonesia mengenai rute kabel laut di Indonesia secara lengkap.
PELAJARI LAGI

Stasiun Pemancar Telekomunikasi di Indonesia

12 January 2016 0 0

Infografis di atas berupaya untuk memberikan informasi kepada publik tentang salah satu komponen dalam sistem komunikasi di Indonesia yaitu stasiun pemancar atau Base Transceiver System (BTS). Untuk mengetahui fungsi BTS sebagai pemancar dan penerima jaringan seluler, penulis mendapatkan data tersebut dari laman gartner.com Pada infografis ini penulis mengumpulkan data mengenai pedoman penggunaan menara telekomunikasi dari Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi (Permenkominfo) tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi. Lalu, untuk mendapatkan data mengenai jumlah BTS per operator, penulis mendapatkan data dari Laporan tahunan yang diterbitkan di tahun 2014 oleh Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Smartfren, dan Bakrie Telecom yang bisa diunduh secara langsung di situs resmi masing-masing perusahaan. Namun, ada beberapa perusahaan yang tidak menyediakan data secara publik seperti Tri Indonesia dan Internux sehingga penulis mendapatkan data BTS kedua perusahaan tersebut dari laman situs berita Liputan6.com dan antaranews.com. Selain meneliti tentang jumlah BTS per operator, penulis juga mengumpulkan data jumlah BTS per daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Maluku-Papua, dan Sulawesi. Seluruh data tersebut didapatkan dari laman situs Statistik Kominfo. Selama proses penyusunan infografik, mayoritas info dan data yang terkumpul penulis dapatkan dari laman situs atau dokumen dari situs perusahaan secara resmi seperti dari siaran pers di situs perusahaan bersangkutan atau dari laporan tahunan perusahaan. Meski demikian, masih terdapat perusahaan yang tertutup dan tidak menyediakan informasi pencapaian perusahaan secara publik. Beberapa perusahaan itu di antaranya adalah Internux (Bolt!) dan Hutchison Three Indonesia (Tri 3). Three Indonesia sayangnya tidak memberikan informasi yang jelas mengenai jumlah BTS mereka di tahun 2014, mereka lebih memberikan data secara perkiraan dan jumlah bulat. Cukup sulit untuk mendapatkan data dari perusahaan telekomunikasi yang satu ini. Dari segi struktur pemegang perusahaan, memang saham utama (65%) 3 Indonesia dipegang oleh Hutchison Whampoa dari Hong Kong, tapi ini bukan berarti mereka harus serba tertutup mengenai pencapaian perusahaan, terutama karena daerah operasional mereka Indonesia. Perusahaan seperti Indosat yang kini dipegang Ooredoo dari Qatar atau XL yang dimiliki Axiata dari Malaysia justru lebih terbuka kepada publik tentang informasi seluk-beluk perusahaan. Apabila Anda melihat infografis diatas, perbedaan antara jumlah menara BTS di Jawa mencolok (jauh lebih banyak)  dibandingkan dengan menara BTS di daerah lain. Kesenjangan ini tentu saja akan berakibat langsung kepada aktivitas telekomunikasi penduduk di daerah tersebut, jangan berharap jaringan ada, apabila menaranya saja tidak.

Kesenjangan Infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia

Tahukah anda fungsi paling krusial dari BTS? Jawab: penyedia sinyal. Teknologi seluler digital seperti CDMA atau pun GSM sangat tergantung dengan BTS. Hal ini karena mekanisme penyaluran sinyal teknologi seluler digital yakni pertama dari satelit lalu menuju ke stasiun bumi yakni BTS, setelah itu ke perangkat telepon seluler. Berbeda dengan telepon satelit yang "penyedia sinyal"-nya langsung dari satelit di angkasa. Jadi, jika tidak ada BTS di daerah anda dalam jarak 8-10 km, bisa dipastikan anda tidak bisa berkomunikasi melalui ponsel. Artinya percuma kita membeli paket telepon atau data ratusan ribu rupiah jika akhirnya tidak bisa digunakan karena fakir sinyal akibat tidak ada menara pemancar di daerah anda tinggal. Beruntung sekali untuk warga Indonesia yang tinggal di kota-kota besar masih dapat menikmati layanan komunikasi yang mumpuni seperti di Jawa atau Sumatera. Daerah tersebut memiliki cukup dukungan dengan tersedianya BTS di beberapa wilayah meskipun belum semua daerah tercakup. Lain halnya dengan masyarakat Indonesia di daerah perbatasan, untuk meraih sinyal mereka harus rela menempuh jarak beberapa kilometer ke BTS terdekat untuk mendapatkan sinyal seluler. Ironisnya, para warga di perbatasan seperti Batam misalnya, merasa "terjajah" dengan sinyal operator asal Singapura atau Malaysia. Bisa anda bayangkan ketika anda menyalakan ponsel yang muncul adalah logo operator dari Malaysia atau Singapura. Dan yang lebih menyebalkan lagi, sering muncul SMS promosi yang berasal dari negara tetangga, padahal kartu SIM kita dari operator Indonesia! Bahkan masyarakat perbatasan ini terpaksa kehabisan pulsa jika menerima panggilan dari negara sendiri (Indonesia) karena biaya roaming. Jika kita mengutip ulang undang-undang No. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi yang berbunyi, "Telekomunikasi diselenggarakan dengan tujuan untuk mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan, serta meningkatkan hubungan antarbangsa." Tentu saat ini Indonesia masih jauh untuk bisa memenuhi target kemajuan teknologi informasi. Faktanya, hingga di tahun 2015, sekitar 20 persen desa-desa perbatasan di Indonesia belum terjangkau sinyal seluler. Melihat kondisi kesenjangan komunikasi di atas, sudah seharusnya para pemangku kepentingan di bidang komunikasi, baik pemerintah maupun operator seluler, turun tangan mengatasi permasalahan ini. Sudah jelas bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi (salah satunya BTS) merupakan bagian dari program pokok pembangunan nasional bagi pemerintah. Untuk menguatkan langkah pembangunan, seluruh elemen pemerintahan dari tingkat menteri harus saling berkolaborasi, bukan hanya tugas Menkominfo saja, tapi juga Menteri dalam Negeri (Mendagri). Mendagri punya Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) yang melibatkan menteri lain dalam membangun daerah perbatasan, tapi tidak melibatkan Menkominfo. Selain berkolaborasi dari tingkat pemerintahan, para operator seluler juga perlu dirangkul. Karena kunci pembangunan BTS ada pada operator, sedangkan pemerintah adalah pendorong. Alasan utama para operator telekomunikasi enggan untuk membangun infrastruktur di daerah terpencil dipengaruhi faktor untung-rugi. Para operator umumnya membuat target pembangunan BTS di daerah strategis bukan di daerah terpencil. Dan dari 8 operator seluler, hanya Telkomsel yang mau membangun BTS di wilayah perbatasan. Miris memang melihat wajah asli para operator telekomunikasi Indonesia yang terlalu komersil. Padahal, hal ini seharusnya menjadi kunci strategi bisnis untuk menggaet pelanggan di daerah pedesaan seperti yang dilakukan Ceria misalnya. Namun, kita juga tidak bisa melulu menyalahkan operator yang tidak mau membangun BTS di daerah terpencil. Pemerintah harus mendorong para operator seluler untuk berkontribusi dengan berbagai cara. Misalnya, memberikan bantuan subsidi dana investasi dan pemberian fasilitas untuk mempermudah para operator menjangkau daerah terpencil. Hingga saat ini, program pemerintah yang bersinergi dengan operator adalah Kewajiban Pelayanan Universal (KPU/USO). Namun seperti yang penulis katakan tadi, program yang bertujuan baik ini terkendala berbagai macam tantangan. Dan yang paling jelas adalah peserta yang mau membangun BTS ke daerah terpencil hanya Telkomsel sedangkan operator seluler lain seperti XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Three Hutchison Indonesia dan lainnya tidak mau berpartisipasi karena proyek ini dianggap tidak memiliki potensi bisnis dan cenderung merugikan mereka. Padahal pemerintah dan aparat daerah sangat mengharapkan kontribusi para operator, bahkan warga rela memberikan lahan mereka apabila ada operator yang hendak membangun BTS di daerahnya.
PELAJARI LAGI

Jaringan Telepon Bergerak dan Badan Usahanya di Indonesia

8 January 2016 0 0

Seiring waktu berjalan dan berkembangnya teknologi telekomunikasi, badan usaha telekomunikasi di Indonesia tidak hanya terdiri dari operator telepon kabel, tapi juga seluler. Infografis di atas disusun untuk menginformasikan kepada publik tentang perkembangan jaringan telepon bergerak dan badan usahanya di Indonesia. Mengenai dasar peraturan teknologi seluler penulis dapatkan dari berkas Peraturan Menteri Komunikasi (Permenkominfo) No. 1 Tahun 2010 di laman situs resmi Pos dan Telekomunikasi. Penulis mengambil informasi tentang sejarah teknologi seluler dari situs usni.ac.id. Selain itu, penulis juga memperoleh data mengenai operator seluler dari Komudata, datacon, dan razmi.net. Informasi tambahan mengenai seluk-beluk telepon satelit penulis da penulis dapatkan dari situs Jaist.ac.jp, gatra.com. Lalu informsi dan keterangna untuk telepon radio trunking penulis dapatkan dari berkas jurnal karya Kasmad Ariansyah. Selama pembuatan infografik, penulis mendapatkan seluruh data/informasi dari laman situs. Harus diakui, informasi yang paling sulit dicari adalah rekam jejak mengenai teknologi trunking. Kapan, di mana, dan bagaimana teknologi ini berkembang di Indonesia sama sekali tidak ditemukan artikel atau dokumennya di situs internet. Selain itu, penjelasan mengenai teknologi ini tergolong lebih kompleks dibandingkan dengan teknologi seluler lainnya. Ditambah, operator yang bermain di sektor jaringan ini merupakan perusahaan kecil, maklum teknologi trunking tidak begitu populer karena penggunanya terbatas untuk pelanggan korporat. Mengenai Teknologi Komunikasi Seluler di Indonesia Indonesia memulai debut teknologi seluler pada tahun 1984 dengan teknologi analog atau generasi pertama (1G). Beberapa teknologi analog itu di antaranya adalah Nordic Mobile Telephone (NMT) dari Eropa, dan Advance Mobile Phone System (AMPS) dari Amerika. Berlanjut ke generasi ke-2 di mana teknologi seluler digital yang berkembang adalah Global System for Mobile (GSM) dari Eropa dan Code Division Multiple Access (CDMA) dari Amerika. Masuk ke 2015, teknologi seluler berkembang ke generasi ke-4 (4G) dengan teknologi Long Term Evloution (LTE) yang jaringannya menggunakan frekuensi GSM karena teknologi ini dikembangkan oleh organisasi pengembang GSM. GSM adalah teknologi seluler digital yang diadaptasi pertama kali oleh Satelindo (sekarang Indosat Ooredoo) di tahun 1994. Jaringan ini memiliki kelebihan antara lain jaringan yang lebih luas (tidak perlu roaming atau "cek daerah/lokasi") dan perangkatnya (ponsel) bervariasi dan cenderung lebih canggih dari CDMA atau telepon lain. Meski demikian, teknologi ini memiliki beberapa kelemahan di antaranya adalah mudah disadap dan sering terjadi panggilan putus. Ketika GSM sudah merajai ranah seluler digital, di tahun 2003 muncul jaringan CDMA di Indonesia yang diadaptasi pertama kali oleh Telkom Flexi. Sebagai pesaing GSM, CDMA memiliki kelebihan di antaranya adalah sistem keamanan lebih baik dan biaya perangkat yang relatif murah, dan konsumsi batere yang lebih sedikit. Namun teknologi ini juga memiliki kekurangan di antaranya adalah perlu roaming dan menurut penulis hal ini merupakan kekurangan yang cukup signifikan karena pengguna seluler bisa saja merasa dibatasi. Selain teknologi seluler digital, menurut Permenkominfo No. 1 Tahun 2010, Indonesia juga memiliki telepon seluler satelit dan radio trunking. Telepon satelit adalah telepon yang stasiun pemancar dan penerimanya langsung dari satelit. Dari segi teknologi jaringan, telepon satelit juga menggunakan seluler artinya sama saja dengan telepon seluler digital biasa. Satu-satunya hal yang membedakan adalah stasiun pemancar dan penerima sinyal seluler ini ada di langit, yaitu satelit itu sendiri. Berbeda dengan teknologi seluler digital atau trunking yang sinyalnya harus diterima dari stasiun pemancar di darat. Kelebihan teknologi ini adalah daya jangkaunya yang sangat luas karena "BTS" satelit dapat mencakup ke luar area Indonesia (bisa se-Asia Pasifik), fisik perangkat yang kokoh, dan jaringan telepon lumayan kuat dan tidak mudah terpengaruh cuaca. Kendati demikian, resiko menggunakan telepon satelit di antaranya adalah ukuran telepon yang besar, biaya teleponi dasar yang mahal, perangkat yang tidak semutakhir CDMA maupun GSM, dan hanya dapat digunakan di luar ruangan. Lalu ada pula teknologi radio trunking, yaitu telepon seluler yang menggunakan gelombang frekuensi radio secara bersama-sama. Sederhananya yakni teknologi telepon yang menggunakan frekuensi terbatas secara beramai-ramai (sharing talkgroup). Telepon seluler jenis ini cara penggunaanya mirip seperti walkie-talkie, atau telepon yang biasa digunakan oleh petugas tambang, polisi, petugas keamanan, militer, dan lain-lain. Hal ini karena rata-rata konsumen radio trunking adalah korporat atau institusi tertentu. Kelebihan teknologi radio trunking di antaranya adalah jaringannya menggunakan frekuensi radio bukan seluler digital sehingga sangat cocok digunakan di daerah terpencil, privasi lebih terjaga karena sifat teknologi ini memiliki cakupan wilayah layanan tertentu alias eksklusif untuk anggota grup saja, lalu telepon ini sangat cocok untuk kalangan bisnis karena rata-rata jenis teleponnya tidak mendukung fitur hiburan layaknya ponsel pintar. Namun kekurangan telepon seluler trunking di antaranya yaitu frekuensinya mudah rentan terhadap cuaca dan infrastruktur yang cukup rumit untuk pemasangannya. Prospek Telekomunikasi Seluler di Indonesia Masing-masing teknologi seluler dan perangkatnya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan juga memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Hingga di tahun 2015, jaringan seluler yang masih mendominasi adalah GSM dan CDMA. Tapi, mayoritas pengguna jaringan seluler di tiap negara juga berbeda-beda. Teknologi CDMA sangat populer di Amerika, Inggris, Rusia, India, Jepang, dan Cina sedangkan GSM di Eropa, Indonesia, Korea, Australia, dan berbagai negara lainnya. Popularitas, tren budaya, dan regulasi pemerintah juga turut mempengaruhi perkembangan teknologi komunikasi seluler. Sebagai contoh, pemerintah Eropa memberikan mandat (paksaan) kepada seluruh masyarakat Eropa untuk lebih menggunakan GSM dibanding CDMA, sehingga ponsel GSM lebih laris di negara ini. Di Indonesia pun demikian, pemerintah yang menaikkan harga operasional untuk operator CDMA menyebabkan perang harga antar CDMA dan GSM. Belum lagi, teknologi perangkat GSM yang kian mutakhir dan beraneka ragam, membuat masayarakat di Indonesia lebih jatuh hati ke GSM. Selain itu, teknologi GSM lebih ideal untuk telepon seluler karena sifatnya lebih fleksibel, bebas kemanapun tanpa harus roaming, dan memang telepon seluler harus bebas digunakan di mana saja. Telepon satelit juga memiliki potensi yang kuat di pasar komunikasi seluler Indonesia. Sayangnya, bentuk ponsel satelit terkesan kuno dan berat, jelas mana ada masyarakat di zaman sekarang yang mau repot-repot menggunakan telepon seperti ini? Selain itu layanan teleponi dari jaringan ini sangat mahal, dan tidak tepat digunakan bagi konsumen yang hanya ingin sekedar berbagi kabar ke rekan yang jaraknya hanya beda kecamatan saja. Jadi, telepon seperti ini paling cocok untuk pelanggan yang tinggal di daerah terpencil, di luar negeri, atau berkebutuhan khusus karena biaya roaming-nya lebih murah dibanding telepon seluler biasa. Layaknya telepon satelit, telepon berbasis radio trunking pun hanya bisa digunakan untuk keperluan khusus. Layanan untuk radio trunking juga tidak bisa dikonsumsi secara sembarangan dan terpisah, operator ini menerapkan sistem sewa, lengkap satu perangkat untuk perusahaan atau institusi yang memesan. Jadi ini bukanlah teknologi seluler yang bisa dikonsumsi untuk khalayak umum, hanya untuk lembaga tertentu dan tujuan khusus. Dengan demikian, jika kita bandingkan dari keempat teknologi seluler yang diakui di Indonesia, sudah pasti teknologi GSM dan CDMA merajai pasar seluler. Kedua jaringan ini menurut penulis memiliki kekuatan setara dan sejak tahun 2000-an saling berkembang satu sama lain. Kedua teknologi ini digolongkan 2G, lalu bersama-sama berkembang menjadi 3G bahkan 3.75G. Namun sayangnya, di tahun 2015 CDMA terpaksa harus mengakhiri perjalanannya di pasar seluler Indonesia. Mengapa? Menurut beberapa sumber, frekuensi yang dimiliki CDMA tidak akan digunakan untuk pengembangan teknologi seluler tingkat lanjut, yaitu 4G LTE. Jaringan GSM dipilih sebagai penopang teknologi LTE karena teknologi ini merupakan turunan dari GSM. Akhirnya CDMA terpaksa ditutup oleh pemerintah Indonesia. Bisa dipastikan mulai dari tahun 2016 hingga seterusnya teknologi seluler di Indonesia akan didominasi oleh 4G LTE yang basis jaringannya menggunakan GSM. Lalu, bagaimana dengan operator CDMA di Indonesia? Semua operator CDMA yang masih bertahan di Indonesia (Smartfren, Esia, dan Ceria) telah bermigrasi frekuensi jaringan ke LTE, bahkan beberapa operator sudah tidak mau disebut sebagai operator CDMA atau pun GSM, yang ada hanyalah operator 4G LTE, untuk menghindari dikotomi teknologi seluler digital. Dan memang, baik GSM maupun CDMA berjalan di satu frekuensi yang sama untuk LTE, meskipun LTE sendiri berdiri di jaringan milik GSM.
PELAJARI LAGI