343 e-Forest Product

Image

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat di NTB telah berhasil meningkatkan fungsi ekologis kawasan hutan. Beberapa mata air yang dulu kering kini muncul kembali. Keanekaragaman hayati pun mulai meningkat. Tidak hanya itu, lebatnya hutan juga membawa keuntungan ekonomis bagi pemegang ijin kelola. Hasil hutan bukan kayu turut mendongkrak pendapatan petani. Tanpa harus menebang hutan, mereka dapat menikmati buah, biji atau daun produk hutan bernilai ekinomis tinggi. Kakao, kopi, kemiri, alpukat dan sirih beberapa di antaranya. Keuntungan ekonomis ini merupakan insentif kuat melestarikan hutan.
Peningkatan produk hasil hutan bukan kayu tersebut mestinya diikuti dengan strategi pemasaran yang lebih mudah, murah, cepat serta dapat menjangkau wilayah yang luas. Sejak tahun 2012 lalu, para petani dan pengusaha hasil hutan membentuk Asosiasi Wirausaha Kehutanan Masyarakat Indonesia (AWKMI) di tingkat nasional. Asosiasi ini direplikasi di tingkat propinsi di seluruh Indonesia. Salah satu tujuan dibentuknya asosiasi ini adalah sebagai wadah pertukaan informasi terkait produk hutan dan mendorong usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat pinggir hutan. Oleh sebab itu, AWKMI saat ini merancang portal database produk hutan: e-Forest Product. Media ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai e-comerce, tetapi juga sebagai wadah edukasi dalam usaha pelestarian hutan.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone
Nomor Urut 343
Nama Lengkap Inisiator L. Yazid Sururi
Lokasi Mataram, Nusa Tenggara Barat
Organisasi Samanta Foundation
Judul Proyek e-Forest Product
Lama Aktivitas 6 Bulan
Target Pengguna /
Penerima Manfaat
petani hutan se-NTB dan konsumen produk hasil hutan secara global
Ukuran Keberhasilan

100.000 pelaku usaha produk hasil hutan di NTB, yang nantinya dapat direplikasi di seluruh Indonesia. websitenya dikunjungi 1.000 klik per hari

Tipe Konten 1. Informasi Komoditi ; Jenis Barang, Harga, Kapasitas produksi, Produsen, Pembayaran
2. Proses Bisnis ; Pengalaman Konsumen (room chatt), Real Time, Non Real Time, Networking, Persamaan Partisipatif.
3. Edukasi Tata Kelola Hutan
Strategi Distribusi

1. Online;
– Jalur sosial media : facebook, twitter, dll.
– Mailing list
– Jaringan BBM, Whatsapp, Line.
2. Offline;
– Melakukan sosialisasi melalui diskusi di kelompok tani hutan

Kuantintas Output Konten 100 jenis hasil hutan per minggu
Dana yang Diminta Rp. 500 Juta
DESKRIPSI PROYEK

Pengelolaan hutan berbasis masyarakat di NTB telah berhasil meningkatkan fungsi ekologis kawasan hutan. Beberapa mata air yang dulu kering kini muncul kembali. Keanekaragaman hayati pun mulai meningkat. Tidak hanya itu, lebatnya hutan juga membawa keuntungan ekonomis bagi pemegang ijin kelola. Hasil hutan bukan kayu turut mendongkrak pendapatan petani. Tanpa harus menebang hutan, mereka dapat menikmati buah, biji atau daun produk hutan bernilai ekinomis tinggi. Kakao, kopi, kemiri, alpukat dan sirih beberapa di antaranya. Keuntungan ekonomis ini merupakan insentif kuat melestarikan hutan.
Peningkatan produk hasil hutan bukan kayu tersebut mestinya diikuti dengan strategi pemasaran yang lebih mudah, murah, cepat serta dapat menjangkau wilayah yang luas. Sejak tahun 2012 lalu, para petani dan pengusaha hasil hutan membentuk Asosiasi Wirausaha Kehutanan Masyarakat Indonesia (AWKMI) di tingkat nasional. Asosiasi ini direplikasi di tingkat propinsi di seluruh Indonesia. Salah satu tujuan dibentuknya asosiasi ini adalah sebagai wadah pertukaan informasi terkait produk hutan dan mendorong usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat pinggir hutan. Oleh sebab itu, AWKMI saat ini merancang portal database produk hutan: e-Forest Product. Media ini nantinya tidak hanya berfungsi sebagai e-comerce, tetapi juga sebagai wadah edukasi dalam usaha pelestarian hutan.

DEFINISI MASALAH

Informasi mengenai jenis dan apasitas produksi hasil hutan yang terpercaya dan up-to-date berlum tersedia. Sehingga kepentingan petani sebagai penghasil produk dengan konsumen tidak terjalin dengan baik. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem informasi dan komunikasi baik antar penghasil pruduk hutan maupun dengan konsumen yang dapat diakses dengan mudah, murah, cepat, terpercaya dan up-to-date. Portal ini juga menyediakan sistem transaksi yang cepat dan aman.

CARA MENGATASI

1. Memperoleh informasi berupa jenis, harga, jumlah atau kapasitas/jumlah produksi komoditi hutan di NTB (sebagai pilot project) Asosiasi Wirausaha Kehutanan Masyarakat Indonesia di NTB.
2. Merancang aplikasi seluler e-Forest Product yang terkoneksi ke internet sehinga dapat diakses secara global.