Pemetaan Wilayah Adat dan Pengambilan Titik Koordinat

April_22_2015_MWH_Diskusi_Pemetaan_Wilayah_Adat

20-24 April 2015
Tujuan     Pemetaan Wilayah Adat dan Pengambilan Titik Koordinat
Lokasi     Dusun Rai Tukur-Tukur
Alamat     Dusun Rai Tukur-Tukur, Desa Dodaga, Haltim
Hadir
AMAN
Albert Ngingi
Faris Bobero
Andi

Komunitas
25 orang dari masyarakat adat Tobelo Dalam Dodaga

Ringkasan
Dilakukan pertemuan bersama para tokoh-tokoh adat Dodaga menyikapi rencana penanaman tahap 2 yang akan dilakukan oleh BPDAS disekitar sungai Bole-Bole dalam wilayah adat Dodaga. Pertemuan ini dilakukan dua kali, yang pertama di laksanakan di Dodaga dan yang kedua dilakukan di dusun Titipa. Pertemuan ini kemudian menyepakati bahwa dewan adat beserta seluruh masyarakat adat Dodaga menolak dilakukannya rencana penanaman tahap dua oleh BPDAS yang akan dilakukan pada bulan Mei 2015. Langkah yang diambil adalah akan menyurat dengan resmi kepada BPDAS, Dinas Kehutanan Haltim, Dinas Kehutanan Provinsi dan Bupati Halmahera Timur untuk menghentikan rencana penanaman tersebut.

Pertemuan awal ini juga membahas tentang kelembagaan adat yang dibentuk sebelumnya. Ada 11 orang yang masuk dalam dewan adat yang masing-masing merupakan perwakilan dari Dodaga, Dusun Rai Tukur-tukur dan Titipa. Dewan adat akan bertugas untuk kembali menggali sejarah wilayah serta hukum –hukum adat di Dodaga.

Proses monitoring hutan adat dilaksanakan selama 3 hari, dimulai pada hari Senin, 20 April 2015. Proses monitoring untuk melihat aktivitas masyarakat dan pihak luar yang dilakukan dalam wilayah adat.

Proses monitoring hari pertama dilaksanakan di bagian timur wilayah adat Dodaga, tepatnya di hulu sungai Fetaulu. Dari hasil monitoring, ada perkebunan karet yang dimiliki oleh PT. Hidra dengan luasan kebun saat ini mencapai 100 Ha. Menurut beberapa karyawan yang ditemui, mereka mengaku bahwa wilayah kebun karet ini merupakan wilayah adat Dodaga, namun tak mengetahui status tanah kebun ini. Apakah dibeli, pinjam atau yang lain. Karyawan juga menginformasikan bahwa PT. Hidra adalah perusahan milik orang Tidore namun mereka tak tahu nama pemilik perkebunan ini.

Penanaman karet dilakukan sejak 1 tahun lalu. Saat ini ada sekitar 2000-an tanaman karet yang telah ditanam. Selain itu ada juga tanaman jati yang ditanam terpisah dengan karet. Para pekerja berasal dari kampung-kampung terdekat seperti kampung transmigrasi dan Gulapapo.

Saat ini juga ada rencana penambahan 30 hektar lahan untuk perluasan kebun karet ini. Menurut informasi dari pengawas kebun, perluasan kebun karet ini telah dibicarakan dengan kepala desa Dodaga. Lahan 30 hektar ini sementara dibuka dan terletak tak jauh dari sungai Fetealu.

Monitoring hari kedua dilaksanakan di bagian utara wilayah adat Dodaga, tepatnya di sekitar PT. Bela yang melakukan penambangan batu dan pasir di hulu sungai Dodaga. Dari informasi yang didapat dari warga sekitar, PT. Bela sudah 6 tahun berada disitu. Lahan yang dijadikan camp merupakan lahan sewaan milik salah satu warga di Titipa. Proses sewanya, pemilik lahan hanya diberikan uang sejumlah 20 juta tanpa ada surat sewa menyewa dan tanpa batas waktu sewa. Selain itu juga pemilik lahan hanya diberi uang kompensasi dari material pasir dan batu yang diambil sebesar Rp. 750.000/bulan. Padahal menurut warga, mungkin ratusan kubik batu dan pasir yang diangkut tiap bulannya dari sekitar sungai Dodaga ini.

Hasil monitoring hari kedua juga menemukan kasus perambahan hutan adat masih terus terjadi di wilayah adat Dodaga. Usaha ilegal loging banyak dilakukan oleh warga transmigran yang bermukim di SP 4. Mereka biasanya masuk dan menebang kayu dalam wilayah adat kemudian menjualnya kepada salah satu cukong kayu, warga transmigran juga yang berada di SP 4. Selain itu juga ada cukong kayu yang merupakan salah satu mantan anggota DPRD yang menampung kayu-kayu ilegal ini. Warga pernah melarang, namun para operator chainsaw ini tak pernah perduli dengan larangan warga tersebut. Saat ini aktivitas ilegal loging sudah sampai disekitar daerah Tutuga. Tiap minggunya hampir puluhan kubik kayu dikeluarkan dari hutan adat Dodaga. Hutan yang dekat dengan kampung sudah tak lagi memiliki kayu besar yang bisa digunakan untuk bangunan rumah. Semuanya telah dirambah. Warga juga mulai kesulitan untuk mengambil kayu rumah karena sudah tak tersedia ditempat-tempat yang dekat. Mereka harus masuk jauh kedalam hutan bila ingin mencari kayu untuk bahan bangunan rumah.

Monitoring hari ketiga dilaksanakan di bagian barat wilayah adat tepatnya di sekitar sungai Bole-bole, tempat dilakukannya aktifitas penanaman untuk rehabilitasi DAS oleh BPDAS dan PT. ANTAM. Luas lahan penanaman sebesar 150 ha dan berada dalam wilayah hutan adat Dodaga. Jika berdasarkan peta kehutanan, aeral penanaman berada dalam kawasan hutan lindung.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone

Comments are closed.