1104 - Mengejar Mimpi, Mengejar Impian

Nama Inisiator

Okky Ardya Warassanthy

Bidang Seni

lainnya

Pengalaman

5 tahun

Contoh Karya

Portfolio_OkkyArdya_2018.pdf

Kategori Proyek

perjalanan

Deskripsi Proyek

Proyek ini merupakan proyek fotografi dokumenter yang mengangkat komplesitas, risiko, dan segala bentuk kerentanan yang dialami Tenaga Kerja Indonesia (TKI) perempuan tak berdokumen maupun mereka yang menempuh jalur non-prosedural (ilegal) untuk bekerja di luar negeri. Dengan memanfaatkan narasi visual dan konsep berupa portrait, pada proyek ini saya akan berfokus pada segala bentuk risiko dan eksploitasi lainnya yang mereka alami sebagai korban perdagangan manusia berkedok buruh migran atau perekrutan TKI, khususnya di beberapa daerah kantong-kantong TKI di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang merupakan salah satu provinsi sumber pengiriman TKI non-prosedural dan memiliki peringkat yang cukup tinggi dalam daftar kasus perdagangan manusia di Indonesia. Proyek yang saya ajukan ini merupakan salah satu bagian sekaligus melengkapi proyek dokumenter yang telah saya kerjakan sejak tahun 2012 di Malaysia yang juga mengangkat kasus-kasus serupa terkait kekerasan, intimidasi, pelecehan seksual, dan bentuk penganiayaan lainnya yang dialami TKI perempuan tak berdokumen. Selama ini pembiayaan proyek atas dana saya pribadi. Proyek ini adalah proyek jangka panjang dan atas keterbatasan dana, beberapa kantong-kantong TKI yang berpotensi menjadi akar permasalahan belum sepenuhnya bisa ditelusuri.

Latar Belakang Proyek

Ketika kasus Nirmala Bonat pertama kali mencuat di media pada tahun 2004, saya masih menjalani awal karier di tahun kedua bekerja di media. Nirmala Bonat adalah TKI asal NTT yang disiksa majikannya di Malaysia. Memori visual saya masih merekam jelas foto-foto mengenaskan Nirmala Bonat dengan beberapa luka fisik di wajah dan tubuhnya. Pada tahun 2012, saya memiliki kesempatan bertemu dengan beberapa TKI perempuan tak berdokumen (terkadang mereka disebut TKI ilegal) di Malaysia yang menuturkan berbagai kekerasan yang pernah mereka alami. Ingatan saya kembali pada foto-foto Nirmala Bonat beberapa tahun silam. Sejak saat itu saya tertarik untuk mencari tahu lebih dalam terhadap isu ini. Selama ini sumber peliputan maupun referensi konten visual yang memetakan sumber permasalahan TKI perempuan masih sangat minim, bahkan underreported. Publik, media, maupun beberapa institusi terkait hanya menaruh perhatian serius ketika kekerasan pada TKI perempuan telah terjadi. Kasus serupa terus terulang, kadang pemberitaannya menguap dan terlupakan, kecuali oleh lembaga /organisasi tertentu yang memang bergerak di ranah kasus-kasus kekerasan pada perempuan atau buruh migran. Saya meyakini, konten visual disertai penelitian dan pemetaan masalah yang komprehensif bisa memberikan peluang untuk terus membangkitkan kesadaran akan isu ini di tengah-tengah corak masyarakat kita yang terlalu pemaaf dan pelupa.

Masalah yang Diangkat

Permasalahan TKI perempuan sangatlah kompleks, terutama mereka yang tak berdokumen atau bekerja secara ilegal melalui jalur non-prosedural. Kasus-kasus kekerasan, pelecehan seksual, intimidasi, penyiksaan bahkan kematian yang dialami TKI perempuan saat berada di negara penempatan, hanyalah satu dari rangkaian panjang yang sebetulnya bermula dari daerah asal pengiriman saat perekrutan. Isu perlindungan, kekerasan atau penyiksaan, serta posisi yang tidak seimbang yang dialami TKI perempuan selama ini memang selalu menjadi masalah yang menarik perhatian publik dan media, namun sangatlah penting untuk melakukan penelusuran ke lapangan di daerah/provinsi asal pengiriman (dalam hal ini NTT) untuk mendapatkan pemahaman akan kondisi sosial ekonomi, latar belakang, faktor keluarga, maupun segala keputusan dibalik keterpaksaan pilihan yang diambil para perempuan calon TKI maupun para korban yang membawa mereka ke dalam pusaran perbudakan modern. Permasalahan yang sama dan berulang selama hampir dua dekade menunjukkan adanya problem sistematik yang bukan sekadar kemiskinan semata, namun melibatkan banyak pihak terkait.

Indikator Sukses

Narasi visual yang lengkap dan menyeluruh dengan konsistensi cerita bertutur (visual storytelling) melalui medium fotografi yang konsisten dan berkualitas; pendekatan yang lebih in-depth terhadap para TKI perempuan yang menjadi korban; adanya sebuah karya fotografi dokumenter yang berpotensi menciptakan ruang diskusi dan mengembangkan dialog di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia dengan permasalahan serupa, dan kesadaran publik (public awareness) melalui platform online berupa website dan media sosial.

Dana yang Dibutuhkan

Rp.87 Juta

Durasi Proyek

3 bulan