Ciptamedia Seluler

PENERIMA HIBAH

    ARTIKEL TERBARU

    Mandiri Menolak Diskriminasi

    25 March 2016 0

    Kepala Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI, Irwanto mengatakan, hingga kini pendataan penyandang disabilitas di Indonesia masih bermasalah. Hal ini terlihat dengan tidak adanya sinkronisasi antara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang sudah berbasis Internasional dengan dana kementerian/lembaga terkait masalah sosial seperti Departemen Kesehatan, Departemen Ketenagakerjaan, dan Departemen Sosial.

    Data penyandang disabilitas belum akurat

    Ilham Cendekia Srimarga: Praktik Open Data Sudah Saatnya Dijalankan

    21 March 2016 0

    YogyakartaIlham Cendekia Srimarga, salah satu mentor CMS, memberikan penjelasan mengenai Revolusi Data dalam acara CMS Berbagi pada 27 Februari 2016. Menurutnya, data yang ada (data yang dipublikasikan pemerintah) belum memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam menghimpun suatu data.

    Selama ini data yang dipublikasikan adalah data olahan/agregat, seperti data sensus yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Data ini pun kerap digunakan pemerintah sebagai

    Informasi dan Jaringan Internet sebagai hak

    21 March 2016 0

      Berto Tukan, redaktur Indoprogres, pernah mengeluh kepada saya. Harga paket internet telkomsel untuk Indonesia timur terlalu mahal. Tidak sebanding dengan harga yang ada di Jawa. Ia mengkritik terjadi ketidakadilan dalam pengenaan harga. Masalahnya, harga yang mahal itu tidak diikuti dengan layanan jaringan yang baik. Di Indonesia timur, seperti Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Papua jangan harap bisa mengakses internet di desa terpencil. Berbeda dengan di Jawa, bahkan di gunung pun ada jaringan dan di sebagian besar pelosok desa di Jawa bisa mendapatkan layanan jaringan internet dengan mudah. Jika ini benar, harusnya logika layanan dan harga diberlakukan terbalik. Untuk layanan akses yang mudah, diberikan harga yang mahal, sementara yang susah dan jarang ada diberikan harga yang murah. Jaringan internet di Jawa tentu lebih mudah daripada pelosok pedesaan di pulau Buton misalnya. Di Indonesia timur internet hanya bisa diakses di kota-kota besar, di pelosok desa anda akan susah mendapatkan sinyal.
    Jangankan untuk internet, kadang telpon juga susah, kata Berto kawan saya itu.
    Ada beberapa solusi yang bisa diterapkan untuk mengatasi masalah akses jaringan komunikasi di daerah-daerah yang belum terjangkau itu. Salah satunya adalah memanfaatkan teknologi Open Source Base Transceiver Station (OpenBTS). Teknologi ini memungkinkan ponsel GSM untuk mengirim pesan dan menelepon tanpa menggunakan jaringan operator seluler. Dengan begitu daerah yang berada di gugusan terluar  Indonesia, yang berada di daerah tertinggal dan yang susah mendapatkan jaringan sinyal dari operator seluler bisa membangun sistem komunikasinya secara independen. Sayang teknologi ini masih asing dan kurang mendapatkan dukungan baik dari pemerintah maupun para aktivis sosial. Padahal akses komunikasi yang mudah dan murah semestinya menjadi hak dasar. Secara umum teknologi OpenBTS merupakan sebuah komputer dan radio yang memiliki dimensi 25 cm x 30 cm x 5 cm.   Menurut Handri Santoso, dosen Informatika Universitas Surya, menjelaskan ada dua versi untuk OpenBTS. Pertama, versi non-komersil (seharga 1.340 USD) memiliki jangkauan 7 meter sehingga butuh penguat sinyal jika ingin menjangkau wilayah yang lebih luas. Kedua, versi komersil (300 juta rupiah) memiliki jangkauan hingga 30 kilometer. Jadi alatnya bisa disesuaikan dengan kebutuhan oleh masyarakat dari wilayah tak terjangkau jaringan seluler. Tidak harus sangat mahal, tapi bisa memenuhi kebutuhan dasar akses informasi yang mudah dan murah. Teknologi OpenBTS dapat dinikmati oleh mereka di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T), seperti wilayah Indonesia Tengah, Indonesia Timur dan daerah pegunungan yang secara ekonomi tidak menguntungkan untuk membangun pusat pemancar sinyal seluler (BTS). Namun, masyarakat di jawa yang susah mendapatkan akses sinyal juga bisa memanfaatkannya. Untuk itu perlu adanya pelatihan dan pendidikan pemanfaatan OpenBTS bagi masyarakat di daerah yang tidak terakses sinyal operator seluler. Itulah yang salah satu hal yang melatari pelatihan OpenBTS yang diadakan di Universitas Surya Tangerang beberapa waktu lalu. Dari pelatihan itu diketahui bahwa selama ini masyarakat kerap disulitkan oleh susahnya akses informasi seluler karena berbagai alasan. Pramudi Widodo, salah satu peserta pelatihan pemanfaatan OpenBTS asal Magelang mengatakan bahwa desa tempat tinggalnya, Kembaran, memiliki kondisi geografis yang tidak menguntungkan. “Banyak tanjakan dan turunan yang curam sehingga desa ini hanya dilalui sebagai jalur alternatif bagi mereka yang ingin menempuh perjalanan lebih cepat”, ungkapnya. Hal serupa juga terjadi di Desa Mbutuh, Purworejo. “Untuk mengirim SMS saja harus mengangkat ponsel tinggi-tinggi bahkan sampai naik ke atap rumah”, tutur Dimas Priambodo. Menurutnya, desa tersebut masih memiliki banyak pepohonan dan sawah sehingga sinyal sulit untuk masuk. Di sekitar desa juga hanya ada satu menara pemancar sinyal seluler (BTS) yang letaknya sangat jauh dari tempat ia tinggal. Padahal, dengan adanya jaringan komunikasi yang memadai termasuk fasilitas internet yang murah akan membantu kemakmuran desa tersebut. Seperti mempublikasikan potensi hasil bumi, pengaduan keluhan akan infrastruktur jalan atau bahkan komunikasi antar keluarga. Selain itu, jika mereka dapat memanfaatkan teknologi informasi dengan baik, masyarakat bisa belajar mengenai pertanian, baik dari tahap menanam, merawat sampai pengolahan melalui internet untuk meningkatkan nilai guna dan nilai jual produk pertanian tersebut. Namun jika memang manfaat OpenBTS demikian banyak dan penting, mengapa pemerintah belum juga mendukung teknologi ini agar dapat dinikmati oleh setiap penduduk Indonesia? Masalah klasik yang selalu ditemui adalah regulasi yang membatasi (atau bahkan melarang) pengembangan OpenBTS.
    Pertanyaannya kemudian, jika teknologi ini memiliki manfaat dan dapat memenuhi hak dasar warga terhadap akses informasi, kenapa regulasi yang membatasi itu tetap dipertahankan?

    Donor Baru dan Penjajakan Kerja Sama antara Penerima Hibah CMS

    17 March 2016 0

    Hibah CMS telah berakhir sejak Desember 2015. Penerima hibah pun mencoba mencari donor baru untuk meneruskan programnya. Ada pula yang menjajaki kemungkinan kolaborasi dengan sesama penerima hibah.

    Salah satu yang sedang menjajaki donor baru adalah Rapotivi. Di masa depan, aplikasi Rapotivi di Android akan dilengkapi dengan fitur baru berupa kampanye

    Hibah CMS Selesai, Pembelajaran Apa yang Diperoleh Penerima Hibah?

    10 March 2016 0

    Yogyakarta – Seluruh penerima hibah CMS hadir untuk berbagi pengalaman menjalankan proyek dalam acara CMS Berbagi pada 26-27 Maret 2016. Pertemuan ini dilakukan untuk menggali pengalaman dan pembelajaran proyek serta menjelajah kemungkinan proyek di masa depan.

    Hibah CMS sejatinya sudah selesai sejak Desember 2015. Dana untuk penerima hibah pun sudah diturunkan semua. Namun, penerima hibah merasa perlu untuk datang ke acara CMS Berbagi meskipun kehadiran mereka tidak

    Sistem Kabel Komunikasi Laut (SKKL) di Indonesia

    18 January 2016 0

      Infografis di atas disusun sebagai salah satu upaya menginformasikan pada publik berbagai sistem komunikasi kabel laut (SKKL) yang dimiliki operator telekomunikasi di Indonesia. Dalam upaya menyusun data untuk infografis di atas, penulis memperoleh data tentang operator telekomunikasi mana yang mendapatkan hak labuh dari siaran pers di situs Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo). Lalu, mengenai data tentang kelebihan kabel laut dibandingkan dengan satelit, penulis mendapatkan sumbernya dari situs luar negeri seperti The D Networks dan Mentalfloss. Kedua situs itu menjelaskan bahwa kabel laut memiliki daya laten dan daya transfer yang lebih baik di banding satelit. Untuk rute kabel komunikasi bawah laut, penulis dapatkan dari laman Submarinecablemap. Informasi tambahan mengenai proyek kabel laut komunikasi yang dikembangkan oleh operator telekomunikasi, penulis dapatkan dari laman ardisragen, beritasatu, dan situs resmi Indosat. Penulis juga memperoleh data dari Laporan Tahunan Telkom, Indosat, dan XL Axiata yang semuanya terbit di tahun 2014. Semua dokumen laporan tersebut penulis dapatkan di situs resmi masing-masing perusahaan. Selama meriset tentang SKKL di Indonesia, seluruh data dan informasi penulis dapatkan dari berbagai laman situs yang menyediakan data tentang kabel laut. Kesulitan yang dirasa selama mencari data adalah tidak tersedianya laman basis data berbahasa Indonesia mengenai rute kabel laut di Indonesia secara lengkap.

    Workshop Sistem Informasi Desa di Kabupaten Ciamis

    8 August 2015 0

    Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah desa dan masyarakat desa untuk memanfaatkan aplikasi sistem informasi desa (SID). SID merupakan aplikasi pendukung kebijakan tata kelola sumber daya di tingkat desa. Workshop diikuti oleh unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pelaku pemberdayaan desa, dan kelompok tani dari 10 desa.

    Lokakarya Sistem Informasi Desa 2.0 Wilayah Pesawaran

    7 June 2015 0

    Festival Nipah merupakan modifikasi lokakarya desa 2.0 dengan mengangkat potensi lokal sebagai topik ulasan. Festival ini diselenggarkaan 6-7 Juni 2015 di Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap.

    Launching BSID

    5 June 2015 0

    Sebagian peserta berdatangan ke lokasi kegiatan dengan berjalan kaki, naik sepeda dan juga berlari aplikasi Phiruntrophy. Tiap satu kilometer yang ditempuh akan dikonversi menjadi Rp 2.000 sebagai DONASI untuk pengembangan program bebassampah.id.

    Pertemuan Pembahasan Piranti Lunak #3

    3 June 2015 0

    Pertemuan ketiga dalam pembahasan piranti lunak yang dikembangkan proyek ini, untuk memastikan peluncuran yang akan dilakukan pada tanggal 5 Juni mendatang. Jika ada hal-hal yang dapat segera diubah dari hasil diskusi atau tes/ uji coba oleh pihak lain, tim piranti lunak proyek akan menggantinya, jika belum dapat diubah dengan cepat akan direncanakan di tahap selanjutnya (paska peluncuran).

    Hearing Dengan Pemkab Halmahera Timur

    3 June 2015 0

    Dinas Kehutanan atas nama Pemkab Haltim merespon untuk melaksanakan Putusan MK 35 serta membicarakan kerjasama dengan AMAN untuk di implementasikan di masyarakat adat
    Pemerintah mendukung langkah AMAN mendorong Perda Masyarakat Adat di Halmahera Timur
    Pemerintah mendukung percepatan pemetaan wilayah adat di Halmahera Timur (termasuk yang sudah seperti wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga)
    Dinas Kehutanan mengklarifikasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat Tobelo Dalam. Prinsipnya rehabilitasi DAS adalah semata-mata untuk masyarakat. Jika terjadi masalah secara teknis maka Dinas Kehutanan akan mengkomunikasikan persoalan itu dengan pemegang proyek
    Pemkab prinsipnya menghormati hak-hak masyarakat adat dan akan mendorong agar ada program yang bisa mensejahterakan masyarakat adat, misalnya kalau yang berada dalam kawasan hutan harus ada program pemberdayaan ekonomi, begitu juga pendidikan untuk orang Tobelo Dalam

    Sosialisasi & Pelatihan Laporan mPantau KBB bagi aktifis lintas agama Aceh

    31 May 2015 0

    Pada 31 Mei 2015, rangkaian sosialisasi dilanjutkan dengan pertemuan dan diskusi antara fasilitator The Wahid Institute dengan perwakilan LSM dan komunitas lintas agama. Sosialisasi ini dilaksanakan di aula milik LSM Flower Aceh, dihadiri perwakilan dari Aceh Institute, GEMPUR, Flower Aceh, VG, Sobat KBB, AFSC, umat Budha, Komunitas Hakka Banda Aceh,