Ciptamedia Seluler

PENERIMA HIBAH

    ARTIKEL TERBARU

    Sistem Kabel Komunikasi Laut (SKKL) di Indonesia

    18 January 2016 0

      Infografis di atas disusun sebagai salah satu upaya menginformasikan pada publik berbagai sistem komunikasi kabel laut (SKKL) yang dimiliki operator telekomunikasi di Indonesia. Dalam upaya menyusun data untuk infografis di atas, penulis memperoleh data tentang operator telekomunikasi mana yang mendapatkan hak labuh dari siaran pers di situs Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemkominfo). Lalu, mengenai data tentang kelebihan kabel laut dibandingkan dengan satelit, penulis mendapatkan sumbernya dari situs luar negeri seperti The D Networks dan Mentalfloss. Kedua situs itu menjelaskan bahwa kabel laut memiliki daya laten dan daya transfer yang lebih baik di banding satelit. Untuk rute kabel komunikasi bawah laut, penulis dapatkan dari laman Submarinecablemap. Informasi tambahan mengenai proyek kabel laut komunikasi yang dikembangkan oleh operator telekomunikasi, penulis dapatkan dari laman ardisragen, beritasatu, dan situs resmi Indosat. Penulis juga memperoleh data dari Laporan Tahunan Telkom, Indosat, dan XL Axiata yang semuanya terbit di tahun 2014. Semua dokumen laporan tersebut penulis dapatkan di situs resmi masing-masing perusahaan. Selama meriset tentang SKKL di Indonesia, seluruh data dan informasi penulis dapatkan dari berbagai laman situs yang menyediakan data tentang kabel laut. Kesulitan yang dirasa selama mencari data adalah tidak tersedianya laman basis data berbahasa Indonesia mengenai rute kabel laut di Indonesia secara lengkap.

    Stasiun Pemancar Telekomunikasi di Indonesia

    12 January 2016 0

    Infografis di atas berupaya untuk memberikan informasi kepada publik tentang salah satu komponen dalam sistem komunikasi di Indonesia yaitu stasiun pemancar atau Base Transceiver System (BTS). Untuk mengetahui fungsi BTS sebagai pemancar dan penerima jaringan seluler, penulis mendapatkan data tersebut dari laman gartner.com Pada infografis ini penulis mengumpulkan data mengenai pedoman penggunaan menara telekomunikasi dari Peraturan Menteri Komunikasi dan Informasi (Permenkominfo) tentang Pedoman Pembangunan dan Penggunaan Menara Bersama Telekomunikasi. Lalu, untuk mendapatkan data mengenai jumlah BTS per operator, penulis mendapatkan data dari Laporan tahunan yang diterbitkan di tahun 2014 oleh Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Smartfren, dan Bakrie Telecom yang bisa diunduh secara langsung di situs resmi masing-masing perusahaan. Namun, ada beberapa perusahaan yang tidak menyediakan data secara publik seperti Tri Indonesia dan Internux sehingga penulis mendapatkan data BTS kedua perusahaan tersebut dari laman situs berita Liputan6.com dan antaranews.com. Selain meneliti tentang jumlah BTS per operator, penulis juga mengumpulkan data jumlah BTS per daerah di Indonesia seperti Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali-Nusa Tenggara, Maluku-Papua, dan Sulawesi. Seluruh data tersebut didapatkan dari laman situs Statistik Kominfo. Selama proses penyusunan infografik, mayoritas info dan data yang terkumpul penulis dapatkan dari laman situs atau dokumen dari situs perusahaan secara resmi seperti dari siaran pers di situs perusahaan bersangkutan atau dari laporan tahunan perusahaan. Meski demikian, masih terdapat perusahaan yang tertutup dan tidak menyediakan informasi pencapaian perusahaan secara publik. Beberapa perusahaan itu di antaranya adalah Internux (Bolt!) dan Hutchison Three Indonesia (Tri 3). Three Indonesia sayangnya tidak memberikan informasi yang jelas mengenai jumlah BTS mereka di tahun 2014, mereka lebih memberikan data secara perkiraan dan jumlah bulat. Cukup sulit untuk mendapatkan data dari perusahaan telekomunikasi yang satu ini. Dari segi struktur pemegang perusahaan, memang saham utama (65%) 3 Indonesia dipegang oleh Hutchison Whampoa dari Hong Kong, tapi ini bukan berarti mereka harus serba tertutup mengenai pencapaian perusahaan, terutama karena daerah operasional mereka Indonesia. Perusahaan seperti Indosat yang kini dipegang Ooredoo dari Qatar atau XL yang dimiliki Axiata dari Malaysia justru lebih terbuka kepada publik tentang informasi seluk-beluk perusahaan. Apabila Anda melihat infografis diatas, perbedaan antara jumlah menara BTS di Jawa mencolok (jauh lebih banyak)  dibandingkan dengan menara BTS di daerah lain. Kesenjangan ini tentu saja akan berakibat langsung kepada aktivitas telekomunikasi penduduk di daerah tersebut, jangan berharap jaringan ada, apabila menaranya saja tidak.

    Kesenjangan Infrastruktur Telekomunikasi di Indonesia

    Tahukah anda fungsi paling krusial dari BTS? Jawab: penyedia sinyal. Teknologi seluler digital seperti CDMA atau pun GSM sangat tergantung dengan BTS. Hal ini karena mekanisme penyaluran sinyal teknologi seluler digital yakni pertama dari satelit lalu menuju ke stasiun bumi yakni BTS, setelah itu ke perangkat telepon seluler. Berbeda dengan telepon satelit yang "penyedia sinyal"-nya langsung dari satelit di angkasa. Jadi, jika tidak ada BTS di daerah anda dalam jarak 8-10 km, bisa dipastikan anda tidak bisa berkomunikasi melalui ponsel. Artinya percuma kita membeli paket telepon atau data ratusan ribu rupiah jika akhirnya tidak bisa digunakan karena fakir sinyal akibat tidak ada menara pemancar di daerah anda tinggal. Beruntung sekali untuk warga Indonesia yang tinggal di kota-kota besar masih dapat menikmati layanan komunikasi yang mumpuni seperti di Jawa atau Sumatera. Daerah tersebut memiliki cukup dukungan dengan tersedianya BTS di beberapa wilayah meskipun belum semua daerah tercakup. Lain halnya dengan masyarakat Indonesia di daerah perbatasan, untuk meraih sinyal mereka harus rela menempuh jarak beberapa kilometer ke BTS terdekat untuk mendapatkan sinyal seluler. Ironisnya, para warga di perbatasan seperti Batam misalnya, merasa "terjajah" dengan sinyal operator asal Singapura atau Malaysia. Bisa anda bayangkan ketika anda menyalakan ponsel yang muncul adalah logo operator dari Malaysia atau Singapura. Dan yang lebih menyebalkan lagi, sering muncul SMS promosi yang berasal dari negara tetangga, padahal kartu SIM kita dari operator Indonesia! Bahkan masyarakat perbatasan ini terpaksa kehabisan pulsa jika menerima panggilan dari negara sendiri (Indonesia) karena biaya roaming. Jika kita mengutip ulang undang-undang No. 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi yang berbunyi, "Telekomunikasi diselenggarakan dengan tujuan untuk mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan, serta meningkatkan hubungan antarbangsa." Tentu saat ini Indonesia masih jauh untuk bisa memenuhi target kemajuan teknologi informasi. Faktanya, hingga di tahun 2015, sekitar 20 persen desa-desa perbatasan di Indonesia belum terjangkau sinyal seluler. Melihat kondisi kesenjangan komunikasi di atas, sudah seharusnya para pemangku kepentingan di bidang komunikasi, baik pemerintah maupun operator seluler, turun tangan mengatasi permasalahan ini. Sudah jelas bahwa pembangunan infrastruktur telekomunikasi (salah satunya BTS) merupakan bagian dari program pokok pembangunan nasional bagi pemerintah. Untuk menguatkan langkah pembangunan, seluruh elemen pemerintahan dari tingkat menteri harus saling berkolaborasi, bukan hanya tugas Menkominfo saja, tapi juga Menteri dalam Negeri (Mendagri). Mendagri punya Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) yang melibatkan menteri lain dalam membangun daerah perbatasan, tapi tidak melibatkan Menkominfo. Selain berkolaborasi dari tingkat pemerintahan, para operator seluler juga perlu dirangkul. Karena kunci pembangunan BTS ada pada operator, sedangkan pemerintah adalah pendorong. Alasan utama para operator telekomunikasi enggan untuk membangun infrastruktur di daerah terpencil dipengaruhi faktor untung-rugi. Para operator umumnya membuat target pembangunan BTS di daerah strategis bukan di daerah terpencil. Dan dari 8 operator seluler, hanya Telkomsel yang mau membangun BTS di wilayah perbatasan. Miris memang melihat wajah asli para operator telekomunikasi Indonesia yang terlalu komersil. Padahal, hal ini seharusnya menjadi kunci strategi bisnis untuk menggaet pelanggan di daerah pedesaan seperti yang dilakukan Ceria misalnya. Namun, kita juga tidak bisa melulu menyalahkan operator yang tidak mau membangun BTS di daerah terpencil. Pemerintah harus mendorong para operator seluler untuk berkontribusi dengan berbagai cara. Misalnya, memberikan bantuan subsidi dana investasi dan pemberian fasilitas untuk mempermudah para operator menjangkau daerah terpencil. Hingga saat ini, program pemerintah yang bersinergi dengan operator adalah Kewajiban Pelayanan Universal (KPU/USO). Namun seperti yang penulis katakan tadi, program yang bertujuan baik ini terkendala berbagai macam tantangan. Dan yang paling jelas adalah peserta yang mau membangun BTS ke daerah terpencil hanya Telkomsel sedangkan operator seluler lain seperti XL Axiata, Indosat Ooredoo, dan Three Hutchison Indonesia dan lainnya tidak mau berpartisipasi karena proyek ini dianggap tidak memiliki potensi bisnis dan cenderung merugikan mereka. Padahal pemerintah dan aparat daerah sangat mengharapkan kontribusi para operator, bahkan warga rela memberikan lahan mereka apabila ada operator yang hendak membangun BTS di daerahnya.

    Jaringan Telepon Bergerak dan Badan Usahanya di Indonesia

    8 January 2016 0

    Seiring waktu berjalan dan berkembangnya teknologi telekomunikasi, badan usaha telekomunikasi di Indonesia tidak hanya terdiri dari operator telepon kabel, tapi juga seluler. Infografis di atas disusun untuk menginformasikan kepada publik tentang perkembangan jaringan telepon bergerak dan badan usahanya di Indonesia. Mengenai dasar peraturan teknologi seluler penulis dapatkan dari berkas Peraturan Menteri Komunikasi (Permenkominfo) No. 1 Tahun 2010 di laman situs resmi Pos dan Telekomunikasi. Penulis mengambil informasi tentang sejarah teknologi seluler dari situs usni.ac.id. Selain itu, penulis juga memperoleh data mengenai operator seluler dari Komudata, datacon, dan razmi.net. Informasi tambahan mengenai seluk-beluk telepon satelit penulis da penulis dapatkan dari situs Jaist.ac.jp, gatra.com. Lalu informsi dan keterangna untuk telepon radio trunking penulis dapatkan dari berkas jurnal karya Kasmad Ariansyah. Selama pembuatan infografik, penulis mendapatkan seluruh data/informasi dari laman situs. Harus diakui, informasi yang paling sulit dicari adalah rekam jejak mengenai teknologi trunking. Kapan, di mana, dan bagaimana teknologi ini berkembang di Indonesia sama sekali tidak ditemukan artikel atau dokumennya di situs internet. Selain itu, penjelasan mengenai teknologi ini tergolong lebih kompleks dibandingkan dengan teknologi seluler lainnya. Ditambah, operator yang bermain di sektor jaringan ini merupakan perusahaan kecil, maklum teknologi trunking tidak begitu populer karena penggunanya terbatas untuk pelanggan korporat. Mengenai Teknologi Komunikasi Seluler di Indonesia Indonesia memulai debut teknologi seluler pada tahun 1984 dengan teknologi analog atau generasi pertama (1G). Beberapa teknologi analog itu di antaranya adalah Nordic Mobile Telephone (NMT) dari Eropa, dan Advance Mobile Phone System (AMPS) dari Amerika. Berlanjut ke generasi ke-2 di mana teknologi seluler digital yang berkembang adalah Global System for Mobile (GSM) dari Eropa dan Code Division Multiple Access (CDMA) dari Amerika. Masuk ke 2015, teknologi seluler berkembang ke generasi ke-4 (4G) dengan teknologi Long Term Evloution (LTE) yang jaringannya menggunakan frekuensi GSM karena teknologi ini dikembangkan oleh organisasi pengembang GSM. GSM adalah teknologi seluler digital yang diadaptasi pertama kali oleh Satelindo (sekarang Indosat Ooredoo) di tahun 1994. Jaringan ini memiliki kelebihan antara lain jaringan yang lebih luas (tidak perlu roaming atau "cek daerah/lokasi") dan perangkatnya (ponsel) bervariasi dan cenderung lebih canggih dari CDMA atau telepon lain. Meski demikian, teknologi ini memiliki beberapa kelemahan di antaranya adalah mudah disadap dan sering terjadi panggilan putus. Ketika GSM sudah merajai ranah seluler digital, di tahun 2003 muncul jaringan CDMA di Indonesia yang diadaptasi pertama kali oleh Telkom Flexi. Sebagai pesaing GSM, CDMA memiliki kelebihan di antaranya adalah sistem keamanan lebih baik dan biaya perangkat yang relatif murah, dan konsumsi batere yang lebih sedikit. Namun teknologi ini juga memiliki kekurangan di antaranya adalah perlu roaming dan menurut penulis hal ini merupakan kekurangan yang cukup signifikan karena pengguna seluler bisa saja merasa dibatasi. Selain teknologi seluler digital, menurut Permenkominfo No. 1 Tahun 2010, Indonesia juga memiliki telepon seluler satelit dan radio trunking. Telepon satelit adalah telepon yang stasiun pemancar dan penerimanya langsung dari satelit. Dari segi teknologi jaringan, telepon satelit juga menggunakan seluler artinya sama saja dengan telepon seluler digital biasa. Satu-satunya hal yang membedakan adalah stasiun pemancar dan penerima sinyal seluler ini ada di langit, yaitu satelit itu sendiri. Berbeda dengan teknologi seluler digital atau trunking yang sinyalnya harus diterima dari stasiun pemancar di darat. Kelebihan teknologi ini adalah daya jangkaunya yang sangat luas karena "BTS" satelit dapat mencakup ke luar area Indonesia (bisa se-Asia Pasifik), fisik perangkat yang kokoh, dan jaringan telepon lumayan kuat dan tidak mudah terpengaruh cuaca. Kendati demikian, resiko menggunakan telepon satelit di antaranya adalah ukuran telepon yang besar, biaya teleponi dasar yang mahal, perangkat yang tidak semutakhir CDMA maupun GSM, dan hanya dapat digunakan di luar ruangan. Lalu ada pula teknologi radio trunking, yaitu telepon seluler yang menggunakan gelombang frekuensi radio secara bersama-sama. Sederhananya yakni teknologi telepon yang menggunakan frekuensi terbatas secara beramai-ramai (sharing talkgroup). Telepon seluler jenis ini cara penggunaanya mirip seperti walkie-talkie, atau telepon yang biasa digunakan oleh petugas tambang, polisi, petugas keamanan, militer, dan lain-lain. Hal ini karena rata-rata konsumen radio trunking adalah korporat atau institusi tertentu. Kelebihan teknologi radio trunking di antaranya adalah jaringannya menggunakan frekuensi radio bukan seluler digital sehingga sangat cocok digunakan di daerah terpencil, privasi lebih terjaga karena sifat teknologi ini memiliki cakupan wilayah layanan tertentu alias eksklusif untuk anggota grup saja, lalu telepon ini sangat cocok untuk kalangan bisnis karena rata-rata jenis teleponnya tidak mendukung fitur hiburan layaknya ponsel pintar. Namun kekurangan telepon seluler trunking di antaranya yaitu frekuensinya mudah rentan terhadap cuaca dan infrastruktur yang cukup rumit untuk pemasangannya. Prospek Telekomunikasi Seluler di Indonesia Masing-masing teknologi seluler dan perangkatnya tentu memiliki kelebihan dan kekurangan juga memiliki fungsi dan tujuannya masing-masing. Hingga di tahun 2015, jaringan seluler yang masih mendominasi adalah GSM dan CDMA. Tapi, mayoritas pengguna jaringan seluler di tiap negara juga berbeda-beda. Teknologi CDMA sangat populer di Amerika, Inggris, Rusia, India, Jepang, dan Cina sedangkan GSM di Eropa, Indonesia, Korea, Australia, dan berbagai negara lainnya. Popularitas, tren budaya, dan regulasi pemerintah juga turut mempengaruhi perkembangan teknologi komunikasi seluler. Sebagai contoh, pemerintah Eropa memberikan mandat (paksaan) kepada seluruh masyarakat Eropa untuk lebih menggunakan GSM dibanding CDMA, sehingga ponsel GSM lebih laris di negara ini. Di Indonesia pun demikian, pemerintah yang menaikkan harga operasional untuk operator CDMA menyebabkan perang harga antar CDMA dan GSM. Belum lagi, teknologi perangkat GSM yang kian mutakhir dan beraneka ragam, membuat masayarakat di Indonesia lebih jatuh hati ke GSM. Selain itu, teknologi GSM lebih ideal untuk telepon seluler karena sifatnya lebih fleksibel, bebas kemanapun tanpa harus roaming, dan memang telepon seluler harus bebas digunakan di mana saja. Telepon satelit juga memiliki potensi yang kuat di pasar komunikasi seluler Indonesia. Sayangnya, bentuk ponsel satelit terkesan kuno dan berat, jelas mana ada masyarakat di zaman sekarang yang mau repot-repot menggunakan telepon seperti ini? Selain itu layanan teleponi dari jaringan ini sangat mahal, dan tidak tepat digunakan bagi konsumen yang hanya ingin sekedar berbagi kabar ke rekan yang jaraknya hanya beda kecamatan saja. Jadi, telepon seperti ini paling cocok untuk pelanggan yang tinggal di daerah terpencil, di luar negeri, atau berkebutuhan khusus karena biaya roaming-nya lebih murah dibanding telepon seluler biasa. Layaknya telepon satelit, telepon berbasis radio trunking pun hanya bisa digunakan untuk keperluan khusus. Layanan untuk radio trunking juga tidak bisa dikonsumsi secara sembarangan dan terpisah, operator ini menerapkan sistem sewa, lengkap satu perangkat untuk perusahaan atau institusi yang memesan. Jadi ini bukanlah teknologi seluler yang bisa dikonsumsi untuk khalayak umum, hanya untuk lembaga tertentu dan tujuan khusus. Dengan demikian, jika kita bandingkan dari keempat teknologi seluler yang diakui di Indonesia, sudah pasti teknologi GSM dan CDMA merajai pasar seluler. Kedua jaringan ini menurut penulis memiliki kekuatan setara dan sejak tahun 2000-an saling berkembang satu sama lain. Kedua teknologi ini digolongkan 2G, lalu bersama-sama berkembang menjadi 3G bahkan 3.75G. Namun sayangnya, di tahun 2015 CDMA terpaksa harus mengakhiri perjalanannya di pasar seluler Indonesia. Mengapa? Menurut beberapa sumber, frekuensi yang dimiliki CDMA tidak akan digunakan untuk pengembangan teknologi seluler tingkat lanjut, yaitu 4G LTE. Jaringan GSM dipilih sebagai penopang teknologi LTE karena teknologi ini merupakan turunan dari GSM. Akhirnya CDMA terpaksa ditutup oleh pemerintah Indonesia. Bisa dipastikan mulai dari tahun 2016 hingga seterusnya teknologi seluler di Indonesia akan didominasi oleh 4G LTE yang basis jaringannya menggunakan GSM. Lalu, bagaimana dengan operator CDMA di Indonesia? Semua operator CDMA yang masih bertahan di Indonesia (Smartfren, Esia, dan Ceria) telah bermigrasi frekuensi jaringan ke LTE, bahkan beberapa operator sudah tidak mau disebut sebagai operator CDMA atau pun GSM, yang ada hanyalah operator 4G LTE, untuk menghindari dikotomi teknologi seluler digital. Dan memang, baik GSM maupun CDMA berjalan di satu frekuensi yang sama untuk LTE, meskipun LTE sendiri berdiri di jaringan milik GSM.

    Satelit Komunikasi di Indonesia

    6 January 2016 0

      Satelit sederhananya adalah benda angkasa yang mengorbit dan mengitari sebuah planet atau bintang. Satelit dibagi atas dua macam: alami dan buatan. Contoh satelit alami adalah bulan (untuk planet bumi) sedangkan satelit buatan adalah Garuda-1 yang diluncurkan oleh Telkom Indonesia. Walaupun demikian, publik umumnya menyebut satelit buatan sebagai 'satelit' saja. Dewasa ini satelit digunakan untuk berbagai jenis tujuan seperti untuk keperluan navigasi, militer, observasi bumi dan geografi, cuaca, riset, dan telekomunikasi. Indonesia adalah salah satu negara yang mengembangkan satelit untuk berbagai tujuan, dan salah satunya adalah untuk perkembangan telekomunkasi. Pada kali ini, penulis menyusun Infografis sebagai upaya menginformasikan kepada publik tentang satelit komunikasi yang telah diorbitkan oleh para operator telekomunikasi dari Indonesia. Agar bisa mengorbitkan satelit, sebuah operator telekomunikasi harus mendapatkan Izin Stasiun Radio (ISR) yang diterbitkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informasi. Info mengenai hal tersebut penulis dapatkan dari buku berjudul Alokasi Frekuensi: Kebijakan dan Perencanaan Spektrum Indonesia yang ditulis oleh Denny Setiawan, Penulis juga menyusun data mengenai sejarah perkembangan satelit komunikasi di Indonesia dari jurnal daring dan laman situs seperti Space Journal Ohio, laman situs Ordasulsel, serta buku Satelit Komunikasi Stasiun Ruang Angkasa. Untuk melengkapi data dan mencari informasi terbaru terkait perkembangan satelit komunikasi di Indonesia, penulis mengumpulkan data yang diperoleh dari situs surat kabar seperti thejakartapost.com, Selain itu, penulis juga memperoleh data dari Laporan Tahunan Telkom dan Indosat yang terbit di tahun 2014, dan dokumen tersebut bisa diunduh dari situs resminya. Dalam menyusun infografik ini, seluruh data didapatkan dari literatur yang tersedia di berbagai laman situs. Penulis merasa sangat bersyukur dengan data-data satelit yang ditulis oleh para blogger dan akademisi dari luar seperti situs space.skyrocket.de serta situs spacejournal.ohio.edu. Kedua situs ini sangat membantu dalam meyediakan data dan informasi mengenai satelit dari segi spesifikasi dan perkembangannya. Penulis berharap Indonesia mampu memiliki informasi atau basis data mengenai satelit komunikasi yang ada di negaranya.

    Mengenai satelit komunikasi di Indonesia

    Sejak zaman pemerintahan presiden Soeharto di tahun 1976, Indonesia mulai berinisiatif untuk melibatkan satelit komunikasi untuk pengembangan teknologi komunikasi. Maklum, untuk mengantisipasi laju teknologi komunikasi dan informatika yang semakin meningkat dari kabel ke seluler, pemerintah merasa penggunaan satelit merupakan urgensi. Hal ini karena Indonesia merupakan negara kepulauan sehingga untuk menjangkau seluruh wilayah, teknologi kabel saja tidak cukup. Langkah awal pun dimulai dengan menyewa satelit dari luar, lalu membeli satelit dari luar, terakhir merakit sendiri sebuah satelit (bukan jenis komunikasi) tapi dibuat, diawasi, dan diluncurkan dari luar negeri. Hingga di tahun 2016, Indonesia sudah genap 40 tahun mengadaptasi teknologi satelit, tapi belum juga bisa meluncurkan satu pun satelit secara independen. Setidaknya hingga di tahun 2015 telah terdapat 14 buah satelit komunikasi milik Indonesia yang mengorbit di angkasa. Penulis akan menjabarkan satelit komunikasi apa saja, pembuat dan harganya berdasarkan operator telekomunikasi serta pandangan ke depan mengenai perkembangan teknologi satelit di Indonesia. Satelit Telkom Indonesia  Pertama adalah sekumpulan satelit seri Palapa yang terdiri dari Palapa A1 dan A2 (1976), B1 (1983), B2 (1984), B2P (atau B3, 1987), B2R (1990), dan B4 (1992). Seluruh Satelit Palapa milik Telkom ini dibuat secara murni dari A sampai Z oleh Boeing Satellite Systems (dahulu namanya Hughes). Masuk fase selanjutnya di tahun 1999, Telkom mulai meluncurkan armada satelit komunikasi terbaru dengan nama seri satelit "Telkom". Hanya saja kali ini masing-masing pembuat satelitnya beragam, tidak lagi dipegang oleh satu perusahaan seperti Palapa oleh Boeing Satellite. Satelit-satelit tersebut adalah Telkom-1 yang dibuat oleh Lockheed Martin pada tahun 1999 dengan harga 191,4 juta dolar. Kedua, satelit Telkom-2 yang dibuat oleh Orbital Science Corporation yang dibuat pada tahun 2005 dengan biaya 170 juta dolar. Ketiga yaitu Telkom-3 yang dibuat pada tahun 2012 oleh ISS Reshetnev asal Rusia seharga 1,8 triliun rupiah. Lalu di tahun 2016 Telkom berniat untuk meluncurkan Telkom-3S yang dibuat oleh Thales Alenia Space asal seharga 199,7 juta dolar. Selain itu Telkom juga merencanakan untuk meluncurkan satelit lagi di waktu mendatang (belum pasti) yakni satelit Telkom-4 dengan nilai proyek kira-kira 200 juta dolar. Satelit Indosat Ooredoo Tidak kalah dengan Telkom. Indosat Ooredoo juga meluncurkan satelit komunikasi tepat di saat mereka meluncurkan layanan telekomunikasi GSM. Nama seri satelit yang diusung sama dengan Telkom, yakni "Palapa". Satelit mereka yang pertama kali diluncurkan adalah Palapa C1 dan C2 yang keduanya diluncurkan di tahun 1996 oleh Boeing Satellite.  Setelah masa operasi kedua satelit itu berakhir, Indosat meluncurkan satelit Palapa D di tahun 2009. Satelit ini dibuat oleh Thales Alenia Space dengan biaya sekitar 200 juta dolar. Kabar terbaru, Indosat berniat untuk meluncurkan satelit Palapa E di tahun 2017 mendatang. Sebenarnya satelit seharga 250 juta dolar ini sudah direncanakan untuk mengorbit di slot 150,5 BT pada tahun 2014. Sayangnya pihak manajemen Indosat saat itu harus berebut dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI), sebuah bank juga ingin mempunya satelit sendiri. Dalam persaingan tersebut Indosat kalah perebutan slot orbit (simak kisahnya di tautan ini). Satelit Pasifik Satelit Nusantara (PSN) Selaku satu-satunya perusahaan telepon satelit, Pasifik Satelit Nusantara juga mempunyai beberapa pesawat satelit sendiri. Satelit itu di antaranya adalah Garuda 1 yang dibuat oleh Lockheed Martin di tahun 2000 dengan biaya 757 juta dolar. Kedua adalah satelit M2A yang dibuat oleh Space System/Loral (SSL) di tahun dengan biaya 350 juta dolar. Selanjutnya adalah PSN 5 yang dibuat oleh Aerospatiale di tahun 1998. Terakhir, dan direncanakan untuk mengorbit di tahun 2017 adalah PSN 6 yang dibuat oleh SSL dengan biaya investasi 200 juta dolar. Refleksi:Perusahaan Satelit Asal Indonesia di Masa Depan? Melihat informasi di atas, tentu hal ini membuat benak kita teraduk-aduk dan berkontemplasi dalam-dalam. Di satu sisi kita menyesali pemerintah yang masih bergantung pada asing dalam pengembangan satelit. Di sisi lain kita juga harus akui bahwa mengelola atau membuat satelit secara mandiribukanlah perkara mudah. Dari penulusuran info ini penulis sendiri memiliki dua pandangan: pesimis dan optimis. Penulis merasa pesimis bahwa Indonesia dapat mengelola secara mandiri teknologi satelit karena dua faktor, modal dan sumber daya manusia. Dari segi modal yakni komponen (material) dan pembangunan infrastruktur satelit dan peluncurnya memerlukan dana yang luar biasa mahal juga membutuhkan perawatan yang intensif. Hingga saat ini Indonesia belum memiliki badan usaha yang bergerak di bidang ini, bahkan infrastruktur yang ada sekarang sangat jauh dari mumpuni. Dari segi sumber daya manusia, Indonesia masih kekurangan pakar di bidang satelit. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) telah berhasil meluncurkan dua satelit terbaru "buatan" bangsa yakni LAPAN-A1 (2007) dan LAPAN-A2 (2015). Hal ini patut dibanggakan, tapi kita tetap harus menyadari bahwa kedua satelt itu materi komponennya dibeli dari luar negeri, dan dibuat di Jerman (hanya LAPAN-A1, sedangkan LAPAN A2 di Bogor), dan dilatih serta diawasi pembuatannya oleh profesor dari Jerman. Lalu, LAPAN A2 meskipun dibuat di dalam negeri, peluncurannya masih menumpang dengan India. Artinya, Indonesia masih bergantung dengan pihak luar, bahkan hingga di tahun 2015! Satelit yang dibuat di atas adalah satelit untuk keperluan penginderaan jarak jauh, seperti mengamati cuaca, geografis, lahan pertanian, dan lain-lain. Belum untuk keperluan tingkat itnggi seperti telekomunikasi. Meski demikian, penulis masih memiliki pandangan positif bahwa mungkin (dan pasti) puluhan tahun lagi Indonesia mampu memiliki infrastruktur lengkap kendaraan antariksa dan membangun perusahaan pembuat satelit sendiri. Langkah para ilmuwan dan teknisi satelit Indonesia perlu didukung oleh pemerintah dan bangsa, karena kehandalan mereka telah terbukti dalam pembuataan satelit LAPAN A2. Berarti Indonesia masih harus meningkatkan potensi teknisi satelit dan mulai berpikir untuk berinvestasi di sektor infrastruktur kendaraan antariksa.

    Mengenal Jaringan Telekomunikasi di Indonesia

    30 December 2015 0

      Indonesia telah mengembangkan sistem jaringan telekomunikasi sejak masa kolonial Belanda. Beberapa tahun setelah American Bell Telephone Company mulai membangun jaringan telepon kabel di Amerika pada tahun 1877, pemerintah Belanda membawa masuk jaringan telepon kabel ke Indonesia pada tahun 1886. Hal tersebut menjadi titik mula perkembangan teknologi teleponi di Indonesia hingga akhirnya kini jaringan telepon tidak hanya kabel tapi juga seluler. Pemerintah Indonesia dalam hal ini berjasa karena senantiasa mengikuti perkembangan teknologi komunikasi dan bersinergi dengan para operator telekomnikasi untuk mengembangkan jaringan komunikasi di Indonesia.

    Tujuan infografis & Rujukan

    Tujuan infografis adalah untuk menginformasikan kepada publik tentang teknologi jaringan telekomunikasi di Indonesia. Dalam upaya penyusunan infografis di atas, penulis memperoleh data mengenai beberapa tipe/jenis teknologi jaringan telekomunikasi di Indonesia dari berkas Permenkominfo No.1 Tahun 2010 yang diterbitakan oleh departemen Pos dan Telekomunikasi Indonesia. Dalam dokumen tersebut tertera klasifikasi jaringan telekomunikasi di Indonesia. Penulis juga memperoleh sejarah dan seluk-beluk mengenai masing-masing teknologi jaringan komunikasi secara spesifik dari laman situs realitytelecom.com, riswanto,com, anneahira.com, fiercewireless.com, dan situs perpustakaan Ohio University. Dan beberapa data lagi dari corp.att.com, economist.com, californianeconomy.com, webopedia.com, qualcomm.com, radio-electronics.com, elon.edu, dan buku Discovering Computers karya Garry Shelly dan Misty Vermaat. Informasi tambahan seperti perkembangan terbaru jaringan telekomunikasi di Indonesia dari segi teknologi dan dinamika usaha, penulis dapatkan dari situs majalah marketing.co.id, portal.cbn.net.id, tempo.co.id, dan jurnal iiste.org. Lalu, penulis juga mencari informasi mengenai harga pesawat telepon beberapa tipe jaringan komunikasi yang didapatkan dari situs toko online hariangadget.com, harga.web.id, telkom.co.id, indosatooredoo.com, dan tabdroid.com.

    Tantangan dalam Menelusuri Data

    Harus diakui tidak mudah menemukan data dari beberapa jaringan telekomunikasi yang kurang populer dan usang. Hal ini penulis rasakan saat menelusuri data tentang teknologi seluler analog AMPS. Perlu diketahui, jaringan AMPS merupakan cikal bakal CDMA karena frekuesni yang digunakan sama seperti CDMA (800 MHz). Teknologi yang telah lama dikembangkan di Amerika ini sempat populer di Indonesia pada era 90-an berdampingan dengan NMT, GSM dan CDMA. Operator jaringan ini pun hanya ada tiga nama: Komselindo, Telesera, dan Metrosel yang semuanya dibawah naungan Telkom Indonesia. Hingga masuk tahun 2000-an, operator dan produk AMPS tidak terdengar lagi kabarnya. Setelah penulis menelusuri lebih jauh data tentang bisnis AMPS di Indonesia melalui berbagai literatur dan situs berita lama, diketahui bahwa satu demi satu para operator ini sudah diambil oleh perusahaan CDMA yang baru dibangun oleh Hary Tanoesoedibjo: Mobile-8. Pertama di tahun 2003 Mobile-8 mengakuisisi Komselindo dan Metrosel, lalu setahun setelahnya Telesera. Dan tiga operator AMPS itu seluruhnya dikonversi habis ke teknologi CDMA demi menunjang infrastruktur jaringan Mobile-8. Tamatlah riwayat AMPS pada tahun 2004 di Indonesia, dan selanjutnya ditutup secara resmi operasinya diseluruh dunia oleh Federal Communications Commission (FCC) pada tahun 2008 di Amerika. Ada satu hal lagi yang penulis rasa masih mengganjal di benak terkait pembuatan infografis jaringan telekomunikasi ini. Jika anda membaca tautan berkas Permenkominfo di atas, tertera bahwa teknologi seluler yang masih beroperasi di Indonesia salah satunya adalah radio trunking. Seharusnya data tersebut ada di infografik ini, tapi sayangnya data yang terkumpul sangat sedikit. Akhirnya penulis berinisiatif untuk memindahkan informasi mengenai radio trunking di infografik "Jaringan Telepon Seluler dan Badan Usahanya di Indonesia". Hasil penelitian terangkum dalam infografis diatas, selamat menikmati dan silahkan disebarkan bebas karena lisensinya adalah CC-BY-SA (jangan lupa mengutip sumber).

    Operator CDMA di Indonesia

    28 December 2015 0

    Di Indonesia terdapat beberapa operator telekomunikasi seluler dengan ragam tipe jaringan seperti satelit, AMPS, radio trunking, CDMA, dan GSM. Namun seiring perkembangan teknologi dan bisnis di ranah telekomunikasi seluler, hanya dua jenis jaringan yang operatornya masih beroperasi bahkan mendominasi di pasar telekomunikasi Indonesia: CDMA dan GSM.

    Infografis Seputar Operator CDMA dan Rujukannya

    Infografis di atas bertujuan untuk mendeskripsikan secara visual kepada publik mengenai laju usaha operator berteknologi CDMA di Indonesia. Untuk informasi secara spesifik tentang profil operator telekomunikasi berbasis CDMA, penulis dapatkan dari Laporan Tahunan Smartfren, Indosat, Telkom, dan Bakrie Telecom yang semuanya diterbitkan di tahun 2014. Penulis mendapatkan dokumen tersebut dengan mengunduh dari situs resmi masing-masing operator. Untuk informasi dinamika bisnis operator CDMA seperti kondisi persaingan harga antara GSM dan CDMA sebagai penyebab lesunya bisnis operator di teknologi ini penulis dapatkan dari laman situs techinasia.com dan harianti.com. Lalu, penulis juga menemukan bahwa beberapa operator CDMA masih berkembang, hanya saja jaringan yang dipakai bukan lagi CDMA, melainkan telah bermigrasi ke 4G LTE. Informasi tersebut penulis dapatkan dari laman situs berita cnnindonesia.com, dan kompas.com, dan indotelko.com.

    Dinamika Bisnis Operator CDMA di Indonesia

    Jaringan CDMA diadaptasi ke Indonesia di tahun 2003 oleh Telkom Flexi, 7  tahun setelah GSM diadaptasi oleh beberapa operator seluler (1996). Sejak pertama kali muncul hingga di tahun 2005, jaringan komunikasi ini harus menempuh perjuangan keras untuk bisa mengambil simpati pasar di tengah populernya teknologi GSM pada masa itu. Diketahui bahwa menurut suaramerdeka.com, pada tahun 2004 jumlah seluruh pelanggan CDMA hanya 1,3 juta nomor sementara pelanggan GSM telah menyentuh 27 juta nomor. Jumlah tersebut sudah dihitung dari seluruh pelanggan CDMA seluler maupun telepon tetap nirkabel (fixed wireless access). Maklum,infrastruktur jaringan CDMA pada tahun 2004 masih terus dikembangkan oleh para operator masing-masing, operator CDMA pun terus optimis dan berlomba-lomba untuk meningkatkan kompetensi usahanya. Usai menggelontorkan dana hingga miliaran rupiah untuk memperkuat infrastruktur CDMA, pelanggan CDMA pun mulai naik secara perlahan meskipun belum bisa melampaui GSM. Operator CDMA pun semakin bertambah yakni Ceria dari Sampoerna Telecommunication Indonesia dan SmartFren. Di samping antusias operator CDMA yang memuncak, sayangnya laju bisnis semakin kurang membaik. Masuk ke tahun 2011 setelah pemerintah menurunkan tarif dan interkoneksi untuk GSM,  beberapa operator CDMA Esia, StarOne, dan Flexi kehilangan pelanggan secara signifikan. Ditenggarai penurunan pelanggan ini karena CDMA banyak diiklankan sebagai "telpon rumah" yang bisa dibawa-bawa. Namun pada prakteknya dengan nomor telpon suntik (penggantian nomor harus dilakukan di gerai operator, tidak seperti GSM dimana kartunya tinggal beli baru dan yang lama dibuang - red) dan keterbatasan wilayah operasional (nomor tidak bisa dibawa bepergian jauh - red) banyak konsumen menganggap bahwa kerepotan teknologi CDMA tidak sebanding saat tarif  teknologi GSM turun. Penurunan jumlah pelanggan itu terus berlanjut hingga di tahun 2013. Walhasil, seluruh operator CDMA pun makin merugi dan akhirnnya dua dari 5 operator telekomunikasi, Flexi dan StarOne, memilih gulung tikar. Setelah diusut, beberapa pihak berpendapat terpuruknya operator CDMA disebabkan oleh tiga faktor: persaingan harga, teknologi yang tak lagi berkembang, dan perangkat (hanset) yang terbatas. Pertama,tercatat di tahun 2008 pemerintah Indonesia menghapus kebijakan yang menyatakan bahwa pembayaran BHP (biaya hak penggunaan) frekuensi untuk operatori CDMA lebih murah, akibatnya biaya operasional operator CDMA membengkak. Kedua, pengembang CDMA sudah tidak mengembangkan jaringan ini sehingga operator harus bermigrasi ke teknologi generasi ke-4 (4G LTE). Ketiga, perangkat CDMA yang amat terbatas dibandingkan GSM yang semakin mutakhir, sehingga para operator CDMA meluncurkan handset buatan pabrik sendiri, misal Andromax dari Smartfren. Memahami kondisi bisnis di ranah CDMA yang semakin lesu, beberapa operator tetap bertahan sambil melancarkan berbagai strategi. Salah satunya adalah akuisisi, seperti yang dilakukan Smart Telecom kepada Mobile-8 menjadi Smartfren, kolaborasi seperti yang dilakukan Smartfren dan Esia, dan terakhir serta paling pasti yaitu migrasi jaringan ke 4G LTE. Migrasi jaringan telah dilakukan Smartfren dan Esia. Lalu bagaimana dengan Ceria? Operator ini isunya akan segera bermigrasi, meskipun operator tersebut dikabarkan belum mengajukan proposal untuk migrasi jaringan hingga Desember 2015.      

    Workshop Sistem Informasi Desa di Kabupaten Ciamis

    8 August 2015 0

    Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemerintah desa dan masyarakat desa untuk memanfaatkan aplikasi sistem informasi desa (SID). SID merupakan aplikasi pendukung kebijakan tata kelola sumber daya di tingkat desa. Workshop diikuti oleh unsur pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), pelaku pemberdayaan desa, dan kelompok tani dari 10 desa.

    Lokakarya Sistem Informasi Desa 2.0 Wilayah Pesawaran

    7 June 2015 0

    Festival Nipah merupakan modifikasi lokakarya desa 2.0 dengan mengangkat potensi lokal sebagai topik ulasan. Festival ini diselenggarkaan 6-7 Juni 2015 di Desa Ujungmanik, Kecamatan Kawunganten, Cilacap.

    Launching BSID

    5 June 2015 0

    Sebagian peserta berdatangan ke lokasi kegiatan dengan berjalan kaki, naik sepeda dan juga berlari aplikasi Phiruntrophy. Tiap satu kilometer yang ditempuh akan dikonversi menjadi Rp 2.000 sebagai DONASI untuk pengembangan program bebassampah.id.

    Pertemuan Pembahasan Piranti Lunak #3

    3 June 2015 0

    Pertemuan ketiga dalam pembahasan piranti lunak yang dikembangkan proyek ini, untuk memastikan peluncuran yang akan dilakukan pada tanggal 5 Juni mendatang. Jika ada hal-hal yang dapat segera diubah dari hasil diskusi atau tes/ uji coba oleh pihak lain, tim piranti lunak proyek akan menggantinya, jika belum dapat diubah dengan cepat akan direncanakan di tahap selanjutnya (paska peluncuran).

    Hearing Dengan Pemkab Halmahera Timur

    3 June 2015 0

    Dinas Kehutanan atas nama Pemkab Haltim merespon untuk melaksanakan Putusan MK 35 serta membicarakan kerjasama dengan AMAN untuk di implementasikan di masyarakat adat
    Pemerintah mendukung langkah AMAN mendorong Perda Masyarakat Adat di Halmahera Timur
    Pemerintah mendukung percepatan pemetaan wilayah adat di Halmahera Timur (termasuk yang sudah seperti wilayah adat Tobelo Dalam Dodaga)
    Dinas Kehutanan mengklarifikasi masalah yang dihadapi oleh masyarakat adat Tobelo Dalam. Prinsipnya rehabilitasi DAS adalah semata-mata untuk masyarakat. Jika terjadi masalah secara teknis maka Dinas Kehutanan akan mengkomunikasikan persoalan itu dengan pemegang proyek
    Pemkab prinsipnya menghormati hak-hak masyarakat adat dan akan mendorong agar ada program yang bisa mensejahterakan masyarakat adat, misalnya kalau yang berada dalam kawasan hutan harus ada program pemberdayaan ekonomi, begitu juga pendidikan untuk orang Tobelo Dalam

    Sosialisasi & Pelatihan Laporan mPantau KBB bagi aktifis lintas agama Aceh

    31 May 2015 0

    Pada 31 Mei 2015, rangkaian sosialisasi dilanjutkan dengan pertemuan dan diskusi antara fasilitator The Wahid Institute dengan perwakilan LSM dan komunitas lintas agama. Sosialisasi ini dilaksanakan di aula milik LSM Flower Aceh, dihadiri perwakilan dari Aceh Institute, GEMPUR, Flower Aceh, VG, Sobat KBB, AFSC, umat Budha, Komunitas Hakka Banda Aceh,