Difabel Tidak Hanya Butuh Akses Fisik, Tetapi Juga Non Fisik

Adakah Ruang Bagi DifabelRubby Emir, pemimpin proyek Mitra Kerja Penyandang Disabilitas mengatakan, hampir semua difabel mempunyai masalah dengan hambatan mental (mental block) dan diskriminasi. Hal tersebut diungkapkannya berdasarkan pengalaman menjadi pemandu diskusi kelompok terarah (FGD) yang diikuti oleh difabel di Yogyakarta, Surabaya dan Malang pada Oktober 2014. Menurutnya, tiap jenis disabilitas mempunyai masalah yang beda satu sama lain (selain jenis disabilitasnya). Untuk tuna rungu dan tuna netra yang tidak memiliki kemampuan mendengar dan melihat, biasanya lebih percaya diri daripada tuna daksa. Kepercayaan diri paling rendah biasanya ada di tuna daksa karena dia bisa melihat orang lain merespons disabilitasnya. Mereka bisa melihat ada mata yang memandang mereka rendah. Mereka bisa mendengar apa yang orang katakan tentang mereka. Sementara itu, tuna netra biasanya paling percaya diri karena mereka tidak bisa melihat ekspresi orang terhadap dirinya.

Namun, masalah terberat yang dialami difabel adalah diskriminasi. Diskriminasi membuat mereka tidak bisa menunjukkan kemampuannya di tempat kerja dan tidak bisa membaur dengan orang lain karena sudah dibedakan sejak lahir. Pada akhirnya mereka menyetujui stigma bahwa mereka beda dan cacat. Oleh karena sudah melihat diri mereka dengan cara itu maka difabel memandang dirinya memang tidak layak bekerja di organisasi atau perusahaan.

Hal yang lebih parah adalah kalau setelah diberi kesempatan bekerja ternyata diskriminasi yang lebih halus mereka rasakan di kantor sendiri. Bayangkan mereka dianggap penyakit (padahal bukan orang yang menderita penyakit), bekerja tidak benar, sulit berkomunikasi dan tetap digaji. Pekerja non-difabel dimana pun akan melihat itu tidak adil. Lalu, karena mereka dianggap penyakit, tidak ada yang mau dekati, mengajari dan mengoreksi kalau salah. Sekejam itu diskriminasi bisa terjadi sehingga ada istilah akses tanpa dukungan bukanlah kesempatan (access without support is not opportunity).

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Saya tidak sependapat dengan statement diatas. Memang benar diskriminasi itu terjadi. Tetapi diskriminasi bagi saya hanyalah dampak saja, bukan masalah. Problem utamanya adalah kekeliruan memandang diri atas difabilitas dan kurangnya interaksi sosial yang wajar. Semua itu karena dalam fikiran semua terhegemoni oleh konsep “ideologi kenormalan” yang salah. Jika berminat memahami perspektif diskriminasi dalam kontek “ideologi kenormalan” silahkan kontak. Saya bersedia diundang dan memfasilitasi workshop kecil tentang hal itu. Silahkan kontak via email atau telpon di 081327358141. Terimakasih.

    Salam

    Sapto nugroho