121 Pengadaan Pusat Training Wireless Cellular Network berbasis OpenBTS

121 Pengadaan Pusat Training Wireless Cellular Network berbasis OpenBTS

Pusat Training Wireless Cellular Network OpenBTS adalah kegiatan untuk membuat pusat pelatihan jaringan seluler (wireless cellular network) yang berbasis opensource sehingga masyarakat dapat membuat dan mengembangkan sendiri jaringan selular yang sesuai karateristik dan kondisi di Indonesia berdasarkan pengetahuan yang dipelajari. Kegiatan ini meliputi pengembangan konten materi training, sertifikasi, pelatihan dan pengembangan perangkat lunak dan perangkat keras wireless celullar network. Melalui kegiatan ini diharapkan penetrasi jaringan seluler ke daerah-daerah dan pedalaman dapat lebih cepat karena adanya sumber daya manusia yang bisa mengoperasikan, mengembangkan dan membuat sendiri jaringan seluler yang sesuai dengan kondisi geografis di Indonesia.

keputusan-tim-seleksi-akhir

Proyek ini kami pilih karena potensinya untuk membagi pengetahuan tentang teknologi komunikasi yang terbuka yang dapat membantu komunitas-komunitas yang tidak mendapatkan akses jaringan telekomunikasi. Sistem BTS terbuka yang sedang diteliti dan dikembangkan melalui proyek ini memungkinkan komunitas-komunitas ini untuk memotong (bypass) perusahaan-perusahaan telekomunikasi dengan menjalankan jaringan terbatas mereka sendiri. Kelompok pengusul proyek ini memiliki jejak rekam yang terbukti dalam menerapkan teknologi tersebut.

 

Anggaran

Laporan pelaksanaan proyek

Laporan penggunaan dana

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone
Nomor Urut 121
Nama Lengkap Inisiator Handri Santoso
Lokasi Depok, Jawa Barat
Organisasi Universitas Surya
Judul Proyek Pengadaan Pusat Training Wireless Cellular Network berbasis OpenBTS
Lama Aktivitas 1 tahun
Target Pengguna /
Penerima Manfaat
Bangsa Indonesia
Ukuran Keberhasilan

Jumlah peserta training yang ditarget sekitar 500 orang yang dilatih menjadi trainer sehingga mereka bisa membagi pengetahuannya di tempatnya tinggal. Semakin baik dan lengkap materi pelatihan berdasarkan sumbangan tulisan masyarakat Indonesia dan kemajuan tekonolgi karena berbasis copyleft.

Tipe Konten Materi Training dan sertifikasi wireless cellular network berbasis Opensource
Strategi Distribusi

– Melalui http://opensource.telkomspeedy.com/wiki/index.php/Main_Page – Pelatihan-pelatihan yang diadakan -Memberikan materi pelatihan secara gratis dan menerima sumbangan tulisan materi dari masyarakat

Kuantintas Output Konten Targetnya adalah bisa mentraining 500 calon trainer dalam pengembangan wireless cellular network berbasis Opensource
Dana yang Diminta Permintaan Rp. 935,7 juta (disetujui Rp. 700 juta rupiah)
DESKRIPSI PROYEK

Kegiatan ini adalah untuk membuat pusat pelatihan jaringan selular nirkabel (wireless cellular network) yang berbasis opensource sehingga masyarakat Indonesia dapat membuat sendiri jaringan selular yang sesuai karateristik dan kondisi masyarakat Indonesia. Kegiatan ini meliputi pengembangan konten dan materi training, sertifikasi, pelatihan dan pengembangan software dan hardware wireless selular network. Sehingga dalam waktu singkat penetrasi jaringan selular ke daerah-daerah dan pedalaman dapat terjangkau lebih cepat dan masyarakat menerima manfaatnya dengan adanya sumber daya manusia Indonesia yang bisa mengoperasikan, mengembangkan dan membuat sendiri jaringan selular.

DEFINISI MASALAH

Pengembangan pusat pelatihan wireless cellular network berbasis Opensource ini diadakan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat Indonesia dalam teknologi wireless cellular network. Pelatihan dan sertifikasi peserta training diadakan agar pemahaman bangsa baik dari aspek peraturan, teknologi, sosial dan hukum tentang teknologi ini bisa dipahami dengan baik.

CARA MENGATASI

Dibuatnya pusat pelatihan wireless cellular network yang meliputi pelatihan, pengembangan materi training dan sertifikasi. Dikembangkan software dan hardware pada pusat pelatihan ini. Dikembangkan applikasi-applikasi yang berjalan pada jaringan selular.

OpenBTS: Jembatan Untuk Kesenjangan Infrastruktur Telekomunikasi Ponsel

19 June 2014 1

OpenBTSOpenBTS adalah singkatan dari Open Base Transceiver Station, berbeda dengan yang "tertutup" (dirujuk dengan BTS saja), OpenBTS memungkinkan ponsel GSM untuk mengirim pesan dan menelepon tanpa menggunakan jaringan operator seluler komersil, sehingga daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) di Indonesia bisa ikut berdaya dengan kemampuan berkomunikasi via ponsel. Sederhananya, OpenBTS ini adalah alat penerima dan penguat sinyal dan dapat dimanfaatkan oleh daerah 3T untuk lebih maju. Mungkin anda bertanya, mengapa operator seluler komersil tidak sampai menjangkau daerah 3T? Bukannya mereka diuntungkan dengan "berjualan pulsa?", kenapa harus pakai OpenBTS? Tahukah anda bahwa investasi untuk menara BTS biasanya mencapai milyaran rupiah, dan untuk benar-benar bekerja menara tidak cukup satu dan kontur daerahnya sangat menentukan. Daerah 3T biasanya tidak padat penduduk, hingga investasi ini bisa jadi "tidak balik modal", jadi boro-boro bisa untung. Sementara harga OpenBTS hanya dibandrol 17,5 juta rupiah (versi non-komersil dengan jangkauan 7 meter) dan 300 juta rupiah (versi komersil dengan jangkauan 30 km). Salah satu penerima hibah Cipta Media Seluler, Handri Santoso dari Universitas Surya yang memberikan pelatihan OpenBTS gratis, mensyaratkan peserta pelatihan menulis tentang kesenjangan infrastruktur jaringan seluler di Indonesia, baik dari segi regulasi, teknologi maupun sosial budaya. Dua macam pelatihan ditawarkan, yaitu pelatihan dasar dan pelatihan instalasi. Pada pelatihan dasar peserta akan diberikan materi mengenai apa itu OpenBTS dan apa manfaatnya. Sementara itu, pada pelatihan instalasi mereka akan diberikan simulasi bagaimana memasang perangkat OpenBTS. Onno Purbo, sebagai mentor mengawasi sendiri pelatihan ini. KAMPUNG-NELAYAN Sejak 2011, Onno sudah banyak mengadvokasikan pengggunaan OpenBTS dalam menanggulangi kesenjangan infrastruktur dalam berkomunikasi menggunakan ponsel. Kesenjangan ini sangat nyata, sebagaimana diceritakan oleh Pramudi Widodo, peserta asal Magelang dimana desa tempat tinggalnya, Kembaran, memiliki banyak tanjakan dan turunan yang curam, jaringan telepon dari Telkom belum masuk. Tanpa jaringan komunikasi yang memadai masyarakat tidak berdaya. Cerita sedih yang sama juga datang dari Desa Mbutuh, Purworejo. Dimas Priambodo, peserta lain, menuturkan bahwa kontur desa dengan banyak pepohonan dan sawah membuat sinyal sulit untuk masuk. Walaupun di desanya ada menara pemancar sinyal seluler (BTS) komersil, dan letaknya sangat jauh dari tempat tinggalnya, hingga mengirim SMS saja harus mengangkat ponsel tinggi-tinggi bahkan sampai naik ke atap rumah. Dua cerita ini masih dari Jawa, yang notabene penuh dengan menara BTS komersil, bisa anda bayangkan kalau beberapa bagian daerah Jawa saja masih mengeluh, bagaimana dengan daerah Timur Indonesia? Dengan OpenBTS warga di daerah sulit sinyal bisa membangun sistem komunikasinya secara independen. Walaupun diatas kertas terlihat sederhana, bahwa tantangan daerah 3T adalah membangun OpenBTS, pada kenyataannya aplikasi OpenBTS di Indonesia tidak sesederhana itu. Mari simak artikel selanjutnya: perjuangan Onno Purbo dalam mengaplikasikan OpenBTS di Indonesia.      

Onno Purbo dan dukungan untuk teknologi OpenBTS

19 June 2014 1

KEPULAUAN Walaupun mengaku pening saat dicalonkan untuk menjadi Menteri Komunikasi dan Informatika, Onno Purbo yang lebih akrab dipanggil sebagai "Pak Onno", tidak pening apabila diminta menjelaskan mengenai teknologi OpenBTS. Sebagai salah satu mentor penerima hibah OpenBTS, Pak Onno yakin teknologi ini adalah jawaban dari kesulitan masyarakat di daerah terpencil berkomunikasi menggunakan seluler. Untuk yang tidak familiar dengan OpenBTS istilah ini adalah singkatan dari Open Base Transceiver Station dimana sebuah BTS GSM berbasis perangkat lunak memungkinkan pengguna ponsel GSM melakukan pangilan telepon atau berkirim pesan singkat (sms), tanpa menggunakan jaringan operator selular komersial. Sejak tahun 2011 Pak Onno menggalakkan percobaan dan eksperimen penggunaan OpenBTS di Indonesia. Ada alasannya mengapa Pak Onno ngotot akan penggunaannya dan mempromosikan munculnya operator seluler independen. Dari puluhan ribu menara BTS yang dioperasikan untuk mendukung enam operator seluler komersil Indonesia, sebagian besar menara ini ada di lokasi lokasi padat penduduk yang menguntungkan untuk "jualan". Padahal banyak lokasi-lokasi yang tidak terjangkau dan membutuhkan sinyal tidak akan mendapatkan sinyal karena membutuhkan menara BTS yang investasinya milyaran. Sementara dengan OpenBTS komunitas-komunitas terpencil ini dapat mengatur sendiri kebutuhan komunikasi mereka dengan keluarga ataupun kerabat dalam berdagang. Dalam Undang Undang Telekomunikasi pasal 30 menyatakan
(1) Dalam hal penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi belum dapat menyediakan akses di daerah tertentu, maka penyelenggara telekomunikasi khusus sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) huruf a, dapat menyelenggarakan jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1) huruf a dan huruf b setelah mendapat izin Menteri. (2) Dalam hal penyelenggara jaringan telekomunikasi dan atau penyelenggara jasa telekomunikasi sudah dapat menyediakan akses di daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka penyelenggara telekomunikasi khusus dimaksud tetap dapat melakukan penyelenggaraan jaringan telekomunikasi dan atau jasa telekomunikasi. (3) Syarat-syarat untuk mendapatkan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.
Pak Onno beragumen bahwa perorangan maupun badan hukum lainnya dapat membuat jaringan telekomunikasi terutama di daerah yang tidak ada infrastruktur telekomunikasinya. Karena frekuensi GSM sudah habis dibagikan pada operator seluler komersil maka operator selular WAJIB memberi sinyal sampai ke desa-desa terpencil maupun puncak-puncak gunung yang secara ekonomis tidak menguntungkan, karena hal ini tidak mengancam bisnis mereka yang kebanyakan berada di kota besar padat penduduk. Mari dukung upaya Pak Onno dengan menyebarluaskan hal ini dan berdo'a semoga menterinya tidak pegal menandatangani ijin bagi komunitas yang membutuhkan teknologi komunikasi di tempat yang tidak terjangkau dan tidak menguntungkan!  

Daerah Sulit Sinyal, Bagaimana Mengatasinya? (Bagian I)

19 June 2014 1

Bagaimana orang di tempat terpencil mendapatkan akses komunikasiHandri Santoso sebagai dosen Informatika Universitas Surya mengatakan, masih banyak daerah di Indonesia yang sulit mendapatkan jaringan seluler, terutama di daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T), seperti wilayah Indonesia Tengah, Indonesia Timur dan daerah pegunungan yang secara ekonomi tidak menguntungkan untuk membangun pusat pemancar sinyal seluler (BTS). Oleh karena itu, perlu dibangun OpenBTS agar masyarakat di daerah sulit sinyal bisa mendapatkan akses komunikasi. Lalu, OpenBTS itu seperti apa? Siapa yang akan membangun OpenBTS di daerah 3T? Berikut penjelasan dari Pak Handri yang kami wawancarai melalui sambungan telepon.

T: OpenBTS ini fungsinya untuk apa? 

J: OpenBTS memungkinkan ponsel GSM untuk mengirim pesan dan menelepon tanpa menggunakan jaringan operator seluler. Dengan begitu, daerah 3T bisa membangun sistem komunikasinya secara independen. OpenBTS merupakan sebuah komputer dan radio yang memiliki dimensi 25 cm x 30 cm x 5 cm.

T: Apakah jangkauan dari OpenBTS luas?

J: Ada dua versi untuk OpenBTS. Pertama, versi non-komersil (seharga 1.340 USD) memiliki jangkauan 7 meter sehingga butuh penguat sinyal jika ingin menjangkau wilayah yang lebih luas. Kedua, versi komersil (300 juta rupiah) memiliki jangkauan hingga 30 kilometer.

T: Untuk mengembangkan OpenBTS caranya bagaimana?

J: Kami akan mengadakan pelatihan OpenBTS bagi orang yang berasal dari wilayah tak terjangkau jaringan seluler. Saat ini baru disediakan 10 unit alat yang secara terus-menerus digunakan untuk pelatihan, rencananya kami akan membeli 2 lagi.

T: Apa saja yang diajarkan dalam pelatihan?

J: Ada pelatihan dasar dan pelatihan instalasi. Pada pelatihan dasar peserta akan diberikan materi mengenai apa itu OpenBTS dan apa manfaatnya. Sementara itu, pada pelatihan instalasi mereka akan diberikan simulasi bagaimana memasang perangkat OpenBTS.

T: Apakah ada kriteria tertentu bagi orang yang ingin ikut pelatihan tersebut? J: Untuk pelatihan dasar tidak ada, siapa saja boleh ikut. Sementara itu, untuk pelatihan instalasi harus memiliki latar belakang teknologi informasi atau elektronik dan minimal memiliki pengetahuan linux dasar serta radio. Anda tertarik untuk mengikuti pelatihannya dan ingin mendaftar? Lihat informasi selengkapnya di sini.

Pramuka Bisa Terintegrasi, Caranya?

19 June 2014 1

Bagaimanakah cara agar pramuka bisa terintegrasiMulyana Sandi, relawan IT dari Sukabumi mengatakan, pramuka saat ini belum terintegrasi yang berarti antar anggota pramuka di suatu wilayah masih berkelompok. Oleh karena itu, diperlukan sistem informasi pramuka agar setiap anggota bisa berdiskusi dan saling bertukar pikiran tanpa adanya batasan wilayah. Selama ini anggota pramuka hanya mendapat materi dari sekolahnya dan dari Jamboree On The Air-Jamboree On The Internet (JOTA-JOTI) yang diselenggarakan setiap tahun. Namun, pada JOTA-JOTI terbatas pada anggota tertentu saja. Dengan adanya sistem informasi tersebut Mulyana berharap keterampilan anggota pramuka bisa meningkat. Keterampilan ini bisa berbentuk materi atau pun tips kegiatan yang interaktif sehingga membuat pramuka lebih menyenangan. Ingin tahu sistem informasi seperti apa yang dibuat? Mari lihat petikan wawancara kami dengan Mulyana Sandi berikut.

T: Bagaimana cara untuk membuat pramuka terintegrasi?

J: Melalui aplikasi pramuka di android. Selain itu, ada situs webnya (dalam versi mobile) sehingga bisa diakses oleh pengguna ponsel biasa asalkan ponsel tersbeut memiliki fasilitas internet.

T: Isi situs webnya apa saja?

J: Isi situs web lebih ke pengelolaan, seperti membuat soal dan pengelolaan pembina.

T: Tujuan dari membuat aplikasi dan situs web adalah membentuk pramuka yang trendi, maksudnya seperti apa?

J: Pramuka yang trendi adalah ketika anggota pramuka mulai memanfaatkan ponsel dalam kegiatannya. Ini semacam membuat citra pramuka agar terlihat lebih modern.

T: Selain aplikasi dan situs web, akankah dibuat media sosial khusus pramuka?

J: Ya, akan dibuat Facebook khusus pramuka yang didalamnya berisi materi kepramukaan dan kuis yang diberikan oleh pembina kepada anggotanya. Misalnya, kuis berbentuk pertanyaan seputar sejarah dan sandi pramuka.

Untuk mengetahui harapan anggota pramuka terhadap aplikasi yang akan dibuat, silakan kunjungi pranala ini.

Pertemuan mentor untuk hibah "Kampanye Frekuensi Milik Publik"

19 June 2014 1

remotivi From: Siska Doviana Date: 2014-08-10 14:28 GMT+07:00 To: Maman Suherman, Heru Tjatur, Roy Thaniago Subjek: [CMS - Pertemuan Mentor] Roy Thaniago - Kampanye Frekuensi Milik Publik Halo semua, Berikut adalah hasil dari pertemuan mentor untuk hibah "Kampanye Frekuensi Milik Publik" pada tanggal 7 Agustus 2014 di kantor WMID-HOTOSM WebFoundation pukul 11:20 - 14:00 Hadir: Maman Suherman Heru Tjatur Roy Thaniago Siska Doviana Biyanto Rebin Pertemuan dibuka dengan pemaparan rekomendasi dari Tim Seleksi Akhir Rekomendasi TSA: Remotivi membuat rating sendiri Remotivi untuk tidak terlalu menitik beratkan keberhasilan dari proyeknya pada KPI Remotivi dalam membuat konten mulai menggandeng komikus yang sudah ada dan sudah terkenal sehingga mempermudah sarana penyebarluasan Roy: Dalam hal pemberian perijinan untuk TV memang KPI tidak bisa tegas, karena ijin TV ada dibawah Kemenkominfo. Namun kami melihat sebaiknya KPI diperkuat dengan dukungan masyarakat karena konten TV ada dibawah KPI. Apabila konten tersebut dianggap memperbodoh masyarakat dan berdampak negatif, KPI dapat memberikan sangsi. Setelah 10 tahun TV tersebut diberi ijin, pemberi ijin dapat melihat TV tersebut dengan menghitung berapa banyak sangsi yang telah dikenakan oleh KPI terhadap stasiun TV tsb. Sangsi tersebut adalah: Teguran 1 Teguran 2 Penghentian sementara Tjatur: KPI lembaga negara, CMS tidak melihat mengapa remotivi dananya digunakan untuk mempromosikan lembaga negara. Sementara TSA melihat ada jurang antara TV dan masyarakat, dimana bisa dijembatani dengan medium seperti seluler. Tjatur sendiri setuju soal mengadaptasi peraturan via hape, dimana masyarakat diperkenalkan melalui peraturan peraturan TV dan bisa berpartisipasi lewat HaPe. Publik bisa menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh remotivi untuk bersuara, apabila nanti suaranya disalurkan kembali oleh remotivi via analisis yang diadvokasikan ke KPI dst dipersilahkan. Maman: Melihat sebenarnya Remotivi sudah baik dan seperti mendapatkan tugas suci memperkenalkan KPI, contoh sederhana adalah apa beda KPI dan lembaga sensor film. Keduanya adalah lembaga dimana alat yang digunakan berbeda, klasifikasi penonton filmnya berbeda. Sementara KPI ada diseluruh Indonesia. Memperkuat penjelasan KPI adalah hal yang baik. Harapan untuk KPI kalau ada tekanan dari masyarakat untuk menindak stasiun-stasiun TV yang menayangkan hal-hal diluar peruntukkannya atau jamnya. Sebaiknya malah UU Penyiaran direvisi - dimana hasil KPI mempengaruhi ijin siaran TV. Sementara ini evaluasi ini hanya diserahkan pada Kominfo. Dalam pemberian sangsi P3SPS - sangsi 500jt sampai 1 M. SMS bisa dikirim ke KPI berita. Pembagian berita - Dewan Pers, non berita KPI, internet Dewan ITE Prioritas dari mentor: Aduan publik - rating negatif ke remotivi, apabila nanti remotivi mau meneruskan kepada KPI hasilnya, dipersilahkan. Namun remotivi harus bertanggung jawab pada aduan yang masuk
  1. P3SPS dikomikkan P3PS - harus diprioritaskan mana yang penting? infografik data monitoring
  2. Publik dapat apa?
  3. Upaya promosi tidak dengan membuat acara musik dan stand up komedi di kampus kampus, melainkan dipusatkan pada upaya daring (online).
  4. Kalaupun ada kunjungan ke kampus-kampus menggunakan acara yang lebih terfokus seperti kuliah umum, dosen tamu dan pertemuan dengan dosen untuk menjalin kerjasama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *