138 Kampanye “Frekuensi Milik Publik”

138 Kampanye “Frekuensi Milik Publik”

Remotivi (sebelumnya Lapor KPI) adalah proyek yang ingin menciptakan sebuah aplikasi di ponsel untuk mengadukan tayangan TV ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Aplikasi yang akan melibatkan KPI dalam pembuatannya ini diharapkan mampu mendorong publik untuk membuat aduan dan mempermudah mekanisme pengaduan. Dalam memasukkan aduannya, pengguna akan disodorkan sebuah formulir yang mudah dikerjakan tapi sekaligus dirancang untuk mengasah kepekaan atau kesadaran (rasionalisasi) protes atau kritiknya. Untuk merangsang minat dan partisipasi publik untuk mengadukan tayangan TV maka aplikasi ini akan mengirimkan informasi dan fakta secara rutin yang berupa trivia, karya visual, artikel dan laporan perkembangan pengaduan.

keputusan-tim-seleksi-akhir

Proyek ini kami pilih karena berfokus pada isu pemantauan media dan kebutuhan untuk memperkuat literasi media dan hak-hak publik terhadap media di Indonesia. Upaya dalam membangun kesadaran publik menjadi sangat penting di tengah dominasi industri televisi. Pengusul proyek juga memiliki rekam jejak yang baik dalam penanganan masalah publik dan media. Aplikasi dan kampanye yang menjadi dari upaya ini.

 

Anggaran

Laporan pelaksanaan proyek

Laporan penggunaan dana

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone
Nomor Urut 138
Nama Lengkap Inisiator Roy Thaniago
Lokasi Petojo Utara, Jakarta Pusat
Organisasi Remotivi
Judul Proyek Kampanye "Frekuensi Milik Publik"
Lama Aktivitas 10 bulan
Target Pengguna /
Penerima Manfaat
Mahasiswa, terutama jurusan komunikasi dan jurnalistik, di Pulau Jawa
Ukuran Keberhasilan

— Pengunduh apps mencapai 20,000 oang
– Kunjungan ke situs mencapai 1000 orang per hari
– Pengaduan ke KPI meningkat 20%
– Penonton video mencapai 50,000 orang

Tipe Konten Games di ponsel cerdas dengan gameplay yang merefleksikan gugatan warga atas frekuensi. Lewat games ini pula, kampanye “frekuensi milik publik” akan menjadi pintu masuk menuju produk kampanye lainnya seperti video, website, musik, dan buku saku.
Strategi Distribusi

– Melibatkan kampus agar menjadi bagian dari program mereka
– Bekerjasama dengan media yang mendukung isu-isu kewarganegaraaan, agar menjadi ruang sosialisasi program
– Memasang iklan di Facebook, YouTube, Apps, dan media massa

Kuantintas Output Konten – Satu apps games di ponsel cerdas yang terdiri dari beberapa gameplay – 3 video dengan masing-masing berdurasi 1 menit – 10,000 eks buku saku dan selebaran
Dana yang Diminta Rp. 801.150.000 (dikabulkan Rp. 700.000.000)
DESKRIPSI PROYEK

Kampanye “Frekuensi Milik Publik”  adalah proyek yang ingin menciptakan sebuah aplikasi di ponsel untuk mengadukan tayangan TV ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Aplikasi yang akan melibatkan KPI dalam pembuatannya ini diharapkan mampu mendorong publik untuk membuat aduan dan mempermudah mekanisme pengaduan. Dalam memasukkan aduannya, pengguna akan disodorkan sebuah formulir yang mudah dikerjakan tapi sekaligus dirancang untuk mengasah kepekaan atau kesadaran (rasionalisasi) protes atau kritiknya. Untuk merangsang minat dan partisipasi publik untuk mengadukan tayangan TV maka aplikasi ini akan mengirimkan informasi dan fakta secara rutin yang berupa trivia, karya visual, artikel dan laporan perkembangan pengaduan.

DEFINISI MASALAH

Banyak usaha advokasi pada isu media mental di hadapan publik. Padahal dukungan publik amat dibutuhkan bagi upaya memperbaiki media. Rupanya, ada kesenjangan pengetahuan masyarakat mengenai isu penyiaran dan posisi mereka yang punya hak atas frekuensi yang digunakan stasiun TV. Tanpa mengetahui haknya, masyarakat menjadi tak berdaya.

Sayangnya, gerakan isu media selama ini melupakan hal-hal yang fundamental. Pertama, gerakan ini alpa melakukan dekonstruksi dan demistifikasi terhadap superioritas media. Kedua, diskusi seputarnya hanya beredar di lingkup tertentu. Ketiga, kurangnya saluran pengetahuan terhadap hal yang mendasar: frekuensi adalah milik publik.

Survei Remotivi menyebutkan hanya 8% orang yang menjawab frekuensi sebagai milik publik. Kurangnya pengetahuan dasar macam inilah yang menjadi salah satu muara persoalan mandeknya gerakan pada isu media. Perolehan pengetahuan “frekuensi milik publik” akan mengemansipasi dan mereposisi masyarakat dari konsumen menjadi warga negara.

CARA MENGATASI

Dengan mengarusutamakan pengetahuan “frekuensi milik publik” melalui medium-medium populer seperti games, video, musik, dan komik, lalu mengiklankannya di media-media arus utama. Lembaga pendidikan dan lembaga kuasi negara seperti KPI perlu dilibatkan sebagai strategi menginternalisasi ide kampanye. Tentu, kampanye ini selain harus partisipatif juga harus menyiapkan mekanisme yang memungkinkan tiap warga bisa terlibat secara nyata, misalnya mendorong pengesahan regulasi yang berpihak kepada publik atau gerakan boikot stasiun TV yang merugikan publik.

Pramuka Bisa Terintegrasi, Caranya?

19 June 2014 0

Bagaimanakah cara agar pramuka bisa terintegrasiMulyana Sandi, relawan IT dari Sukabumi mengatakan, pramuka saat ini belum terintegrasi yang berarti antar anggota pramuka di suatu wilayah masih berkelompok. Oleh karena itu, diperlukan sistem informasi pramuka agar setiap anggota bisa berdiskusi dan saling bertukar pikiran tanpa adanya batasan wilayah. Selama ini anggota pramuka hanya mendapat materi dari sekolahnya dan dari Jamboree On The Air-Jamboree On The Internet (JOTA-JOTI) yang diselenggarakan setiap tahun. Namun, pada JOTA-JOTI terbatas pada anggota tertentu saja. Dengan adanya sistem informasi tersebut Mulyana berharap keterampilan anggota pramuka bisa meningkat. Keterampilan ini bisa berbentuk materi atau pun tips kegiatan yang interaktif sehingga membuat pramuka lebih menyenangan. Ingin tahu sistem informasi seperti apa yang dibuat? Mari lihat petikan wawancara kami dengan Mulyana Sandi berikut.

T: Bagaimana cara untuk membuat pramuka terintegrasi?

J: Melalui aplikasi pramuka di android. Selain itu, ada situs webnya (dalam versi mobile) sehingga bisa diakses oleh pengguna ponsel biasa asalkan ponsel tersbeut memiliki fasilitas internet.

T: Isi situs webnya apa saja?

J: Isi situs web lebih ke pengelolaan, seperti membuat soal dan pengelolaan pembina.

T: Tujuan dari membuat aplikasi dan situs web adalah membentuk pramuka yang trendi, maksudnya seperti apa?

J: Pramuka yang trendi adalah ketika anggota pramuka mulai memanfaatkan ponsel dalam kegiatannya. Ini semacam membuat citra pramuka agar terlihat lebih modern.

T: Selain aplikasi dan situs web, akankah dibuat media sosial khusus pramuka?

J: Ya, akan dibuat Facebook khusus pramuka yang didalamnya berisi materi kepramukaan dan kuis yang diberikan oleh pembina kepada anggotanya. Misalnya, kuis berbentuk pertanyaan seputar sejarah dan sandi pramuka.

Untuk mengetahui harapan anggota pramuka terhadap aplikasi yang akan dibuat, silakan kunjungi pranala ini.

Pertemuan mentor untuk hibah "Kampanye Frekuensi Milik Publik"

19 June 2014 0

remotivi From: Siska Doviana Date: 2014-08-10 14:28 GMT+07:00 To: Maman Suherman, Heru Tjatur, Roy Thaniago Subjek: [CMS - Pertemuan Mentor] Roy Thaniago - Kampanye Frekuensi Milik Publik Halo semua, Berikut adalah hasil dari pertemuan mentor untuk hibah "Kampanye Frekuensi Milik Publik" pada tanggal 7 Agustus 2014 di kantor WMID-HOTOSM WebFoundation pukul 11:20 - 14:00 Hadir: Maman Suherman Heru Tjatur Roy Thaniago Siska Doviana Biyanto Rebin Pertemuan dibuka dengan pemaparan rekomendasi dari Tim Seleksi Akhir Rekomendasi TSA: Remotivi membuat rating sendiri Remotivi untuk tidak terlalu menitik beratkan keberhasilan dari proyeknya pada KPI Remotivi dalam membuat konten mulai menggandeng komikus yang sudah ada dan sudah terkenal sehingga mempermudah sarana penyebarluasan Roy: Dalam hal pemberian perijinan untuk TV memang KPI tidak bisa tegas, karena ijin TV ada dibawah Kemenkominfo. Namun kami melihat sebaiknya KPI diperkuat dengan dukungan masyarakat karena konten TV ada dibawah KPI. Apabila konten tersebut dianggap memperbodoh masyarakat dan berdampak negatif, KPI dapat memberikan sangsi. Setelah 10 tahun TV tersebut diberi ijin, pemberi ijin dapat melihat TV tersebut dengan menghitung berapa banyak sangsi yang telah dikenakan oleh KPI terhadap stasiun TV tsb. Sangsi tersebut adalah: Teguran 1 Teguran 2 Penghentian sementara Tjatur: KPI lembaga negara, CMS tidak melihat mengapa remotivi dananya digunakan untuk mempromosikan lembaga negara. Sementara TSA melihat ada jurang antara TV dan masyarakat, dimana bisa dijembatani dengan medium seperti seluler. Tjatur sendiri setuju soal mengadaptasi peraturan via hape, dimana masyarakat diperkenalkan melalui peraturan peraturan TV dan bisa berpartisipasi lewat HaPe. Publik bisa menggunakan fasilitas yang ditawarkan oleh remotivi untuk bersuara, apabila nanti suaranya disalurkan kembali oleh remotivi via analisis yang diadvokasikan ke KPI dst dipersilahkan. Maman: Melihat sebenarnya Remotivi sudah baik dan seperti mendapatkan tugas suci memperkenalkan KPI, contoh sederhana adalah apa beda KPI dan lembaga sensor film. Keduanya adalah lembaga dimana alat yang digunakan berbeda, klasifikasi penonton filmnya berbeda. Sementara KPI ada diseluruh Indonesia. Memperkuat penjelasan KPI adalah hal yang baik. Harapan untuk KPI kalau ada tekanan dari masyarakat untuk menindak stasiun-stasiun TV yang menayangkan hal-hal diluar peruntukkannya atau jamnya. Sebaiknya malah UU Penyiaran direvisi - dimana hasil KPI mempengaruhi ijin siaran TV. Sementara ini evaluasi ini hanya diserahkan pada Kominfo. Dalam pemberian sangsi P3SPS - sangsi 500jt sampai 1 M. SMS bisa dikirim ke KPI berita. Pembagian berita - Dewan Pers, non berita KPI, internet Dewan ITE Prioritas dari mentor: Aduan publik - rating negatif ke remotivi, apabila nanti remotivi mau meneruskan kepada KPI hasilnya, dipersilahkan. Namun remotivi harus bertanggung jawab pada aduan yang masuk
  1. P3SPS dikomikkan P3PS - harus diprioritaskan mana yang penting? infografik data monitoring
  2. Publik dapat apa?
  3. Upaya promosi tidak dengan membuat acara musik dan stand up komedi di kampus kampus, melainkan dipusatkan pada upaya daring (online).
  4. Kalaupun ada kunjungan ke kampus-kampus menggunakan acara yang lebih terfokus seperti kuliah umum, dosen tamu dan pertemuan dengan dosen untuk menjalin kerjasama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *