168 Situs Laporan Warga Tanah Papua Berbasis SMS

168 Situs Laporan Warga Tanah Papua Berbasis SMS

Situs Laporan Warga Papua Berbasis SMS adalah proyek jurnalisme warga yang dikelola secara mandiri dan sukarela sejak tahun 2010 dengan tujuan mengatasi faktor demografis dan geografis Papua yang mengakibatkan kesenjangan informasi dan pengetahuan. Hingga tahun 2013, proyek ini fokus pada peristiwa kekerasan aktor negara terhadap warga sipil di Papua. Melalui proyek ini, warga dapat melaporkan peristiwa yang terjadi disekitar mereka melalui SMS, e-mail atau formulir online untuk dipublikasikan secara otomatis dalam sebuah situs. Publikasi dilakukan melalui prosedur approval, verified/unverified. Publikasi di situs proyek juga dihubungkan dengan Facebook, Twitter dan SMS App kepada warga yang datanya sudah tersimpan dalam database.

keputusan-tim-seleksi-akhir

Proyek ini kami pilih karena potensinya untuk menjadi sarana komunikasi yang penting bagi penduduk di Provinsi Papua yang memiliki tingkat akses informasi rendah. Penggunaan sms dan alat pelaporan warga dianggap sebagai pilihan teknologi yang tepat serta cocok untuk tujuan pemantauan isu-isu pendidikan dan kesehatan. Kelompok pengusul proyek ini telah memiliki banyak pengalaman baik sebagai jurnalis dan aktivis. Sistem ini telah berjalan sejak tahun 2010, kontribusi laporan oleh warga terhubung dengan sebuah situs berita yang kemudian menyebarkan ke pihak-pihak yang berkepentingan.

 

Anggaran

Laporan pelaksanaan proyek

Laporan penggunaan dana

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone
Nomor Urut 168
Nama Lengkap Inisiator Victor Claus Mambor
Lokasi Jayapura Utara, Papua
Organisasi Perkumpulan Jujur Bicara
Judul Proyek Situs Laporan Warga Tanah Papua Berbasis SMS
Lama Aktivitas 1 tahun
Target Pengguna /
Penerima Manfaat
Masyarakat umum usia 13 tahun ke atas yang bertempat tinggal di seluruh wilayah Indonesia, terutama di Papua dan Papua Barat
Ukuran Keberhasilan

-Keterlibatan warga sebagai pelapor meningkat sebanyak 10 orang setiap bulan
– Jumlah pengunjung situs meningkat sebanyak 200 orang setiap bulan
– Jumlah laporan yang dipublikasikan dan didistribusikan kepada audiens melalui situs dan SMS meningkat sebanyak 15 laporan setiap bulan

 

 

Tipe Konten Teks, Video, Foto, Dokumen yang berhubungan dengan sebuah peristiwa, praktek cerdas masyarakat dan informasi tentang Pendidikan dan Kesehatan di Papua
Strategi Distribusi

Penyebaran konten akan dilakukan melalui SMS, situs web, jejaring sosial dan media massa. Khusus untuk media massa dilakukan melalui sebuah kerjasama PSA atau talkshow dengan menampilkan pelapor yang berhasil mendapatkan reward atas konsistensinya.

Kuantintas Output Konten Setiap hari, akan dikirimkan 1000 sms kepada nomor-nomor yang telah ada dalam database situs. Sedangkan sms yang diterima sebagai laporan warga setiap hari harus mencapai 10 laporan, berupa Teks, Video, Foto, Dokumen yang berhubungan dengan sebuah peristiwa, praktek cerdas masyarakat dan informasi tentang Pendidikan dan Kesehatan di Papua
Dana yang Diminta Rp 1 milyar (dana yang disetujui Rp. 722.987.500)
DESKRIPSI PROYEK

Proyek ini adalah proyek jurnalis warga. Proyek ini memadukan platform SMS Frontline dan Ushahidi. Melalui proyek ini, warga dapat melaporkan setiap peristiwa ataupun praktek pembelajaran cerdas melalui sms, email atau formulir online untuk dipublikasikan secara otomatis dalam sebuah situs.

Fokus dari proyek ini adalah informasi “tangan pertama” dan wilayah-wilayah pedalaman Papua. Siapa saja bisa menjadi pelapor melalui prosedur verified dan unverified. Namun beberapa warga akan dilatih membuat laporan singkat via SMS di nomor Hotline situs dengan format 5W1H agar secara reguler bisa melaporkan praktek cerdas masyarakat atau permasalahan pendidikan dan kesehatan di Tanah Papua.

Untuk mendisitribusikan konten situs yang merupakan laporan warga ini, situs proyek ini akan dihubungkan dengan jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter dan melalui SMS App (frontline sms) kepada audience yang sudah tersimpan datanya di database/

DEFINISI MASALAH

– Memperluas penerima manfaat proyek ini atau dengan kata lain, meraih audiens yang lebih banyak.
– Meningkatkan jumlah keterlibatan masyarakat.
– Memperluas cakupan laporan yang disampaikan warga, terutama informasi mengenai praktek cerdas warga, pendidikan dan kesehatan.

CARA MENGATASI

– Melakukan sosialisasi/kampanye situs dan nomor Hotline yang digunakan secara terus menerus
– Memberikan rewards pada warga masyarakat yang secara konsisten terlibat
– Mempekerjakan beberapa staf untuk mengelola situs, jejaring sosial dan fasilitas frontline sms
– Melakukan lebih banyak worskhop tentang proyek kepada masyarakat sipil secara reguler

Mandiri Menolak Diskriminasi

19 June 2014 0

tampilan layar kerjabilitas

Kepala Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI, Irwanto mengatakan, hingga kini pendataan penyandang disabilitas di Indonesia masih bermasalah. Hal ini terlihat dengan tidak adanya sinkronisasi antara data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang sudah berbasis Internasional dengan dana kementerian/lembaga terkait masalah sosial seperti Departemen Kesehatan, Departemen Ketenagakerjaan, dan Departemen Sosial.

Data penyandang disabilitas belum akurat akan berdampak dalam pemenuhan hak-hak mereka. Rubby Emir dari Saujana, lembaga sosial yang peduli terhadap isu difabel, menilai angka penyandang disabilitas di Indonesia 15% dari total populasi. WHO menganggap bahwa gangguan kejiwaan dapat juga dikategorikan sebagai penyandang disabilitas. Akibatnya ada perubahan demografi penyandang disabilitas di Indonesia. Meski demikian data BPS memiliki pandangan berbeda, menurut mereka penyandnag disabilitas hanya berjumlah 1,2% dari total penduduk.

Perbedaan ini akan mengakibatkan para penyandang disabilitas rentan diskriminasi dan tak mendapatkan haknya dengan baik. Populasi pasti penyandang disabilitas akan menjadi dasar pembuatan kebijakan, seperti mendapatkan akses pendidikan, kesempatan kerja, dan juga pelayanan kesehatan yang baik. Data tersebut akan membantu pemerintah untuk merumuskan besaran angka anggaran yang bisa dimanfaatkan untuk pemberdayaan para penyandang disabilitas.

Rubby Emir

Rubby Emir dari Saujana

Data yang akurat akan membantu pemerintah untuk merumuskan kebijakan yang tepat bagi penyandang disabilitas. Misalnya memberikan kuota pekerjaan sesuai kemampuan di perusahaan yang ada di Indonesia, baik BUMN maupun perusahaan swasta. Selain itu juga bisa merumuskan kebijakan baru untuk melindungi dan menjamin mereka mendapatkan kehidupan yang lebih baik, melalui pendidikan dan jaminan sosial terpadu.

Ekawati Liu dan Lyla Brown dalam artikelnya menulis bahwa Pemerintah Indonesia menyepelekan angka penyandang disabilita. Statistik resmid ari United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP) memperkirakan hanya 1.4% dari penduduk Indonesia yang memiliki disabilitas. Namun angka ini terlalu kecil jika dibandingkan dengan rata rata statistik negara-negara ASEAN. Contohnya Thailand dan Vietnam memperkirakan 2.9% dan 7.8% dari populasi yang menyandang disabilitas.

World Health Organization (WHO), memperkirakan bahwa di seluruh dunia rata-rata penyandang disabilitas adalah 15% dari total populasi atau 37 juta orang. Program Nasional Pemberdayaan Mandiri baian Program Khsusus Disabilitas menunjukan bahwa pengolahan data dan sensus penyandang disabilitas di Indonesia beragam. Kerap kali juga ada kerancuan antara definisi penyandang disabilitas antar lembaga pemerintah.

Data Lembaga Demografi Universitas Indonesia, menyebutkan bahwa 25% penyandang disabilitas di Indonesia hidup dalam kemiskinan parah. Para penyandang disabilitas ini memiliki kondisi kesehatan yang buruk dan biaya pengeluaran kesehatan yang mahal. Mereka juga hidup dalam kondisi kekurangan nutrisi, kekurangan air bersih, dan informasi kesehatan yang layak. Jangankan untuk mendapatkan pekerjaan, mendapatkan kehidupan yang layak juga menjadi sebuah kemewahan. Namun hal ini bukan berarti para penyandang disabilitas lainnya tak berhak bekerja.

Menurut Rubby, selama ini sebagian besar penyedia kerja di Indonesia masih menganggap penyandang difabel sebagai warga negara kelas dua, dan sering ada diskriminasi, dan stigma kalau mereka tidak bisa melakukan apapun. Tetapi berkat kerja keras bersama Saujana Indonesia yang melakukan riset sejak 2014 ke beberapa kelompok difabel di Yogyakarta, Semarang, dan beberapa kota. Akhirnya bisa dirumuskan sebuah aplikasi yang bisa menjebatani kebutuhan perusahaan dan minat kaum difabel. Itu yang kemudian melatari lahirnya situs dan aplikasi kerjabilitas.com.

Rubby berpendapat bahwa ada banyak cara untuk mengajak perusahaan menerima para penyandang disablitas bekerja di tempat mereka. Misalnya dengan insentif pajak, melakukan sosialiasi peraturan pemerintah, dan memberikan penghargaan kepada perusahaan yang berinisiatif mempekerjakan para penyandang disabilitas. Sejauh ini ia merasa pemerintah kurang tegas dan kurang pro aktif mengadvokasi hak para disabilitas ini.

Adanya kerjabilitas.com bisa membantu pemerintah untuk mengetahui perusahaan mana saja yang telah patuh peraturan melalui lowongan pekerjaan yang mereka sediakan. Pengawasan juga bisa dimaksimalkan untuk mengawal isu pekerja dengan disabilitas. Kerjabilitas.com juga membantu pemberdayaan baik bagi para pekerja disabilitas dengan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan mereka.

Adakah Ruang Bagi DifabelMekanisme Kerjabilitas.com cukup sederhana. Pelamar melakukan registrasi, melengkapi profil, mengunggah CV dan foto. Setelah itu, pelamar bisa aktif mencari lowongan yang sesuai dan melamar secara online dengan menulis beberapa kalimat tentang diri pelamar. Keuntungan dari Kerjabilitas.com ini adalah pelamar akan mendapatkan notifikasi atau pemberitahuan lewat akun email yang terdaftar setiap ada lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kriteria pelamar. Selain itu, pelamar bisa mengundang teman sesama penyandang disabilitas untuk bergabung dalam jaringan sosial karir ini.

Saat ini tercatat sudah ada hampir 1.000 pengguna aktif kerjabilitas di aplikasi ponsel yang dapat diakses dari Play Store. Penyedia kerja yang tercatat bergabung sudah ada lebih dari 200 perusahaan yang tersebar di banyak kota di Indonesia. Sayang sebagian besar dari kota tersebut berada di pulau Jawa, sementara penyandang disabilitas ada banyak di seluruh Indonesia. Sektor pekerjaan yang diminati juga masih terbatas yaitu hal yang berhubungan dengan teknologi informasi, akuntansi, administrasi, asuransi, customer service, dan pemasaran.

Sebenarnya jika bisa dimanfaatkan dan dikembangkan dengan baik maka Kerjabilitas bisa mengadvokasi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia unyuk mendapat pekerjaan lebih baik. Semua hanya butuh niat baik dan dorongan barik dari pemerintah ataupun pihak pengusaha. Para penyandang disabilitas ini punya potensi tak terbatas. Mereka bisa membuktikan dirinya bekerja dengan baik, asal diberikan kesempatan.

Pengalaman Panji sebagai difabel pencari kerja

19 June 2014 0

Beberapa-buruh-perempuan-sedang-diskusi Kerjabilitas.com adalah platform yang dibiayai oleh hibah Ciptamedia untuk dapat menghubungkan pencari kerja dan pemberi kerja. Namun seperti apakah pengalaman difabel pencari kerja sebenarnya? Berikut adalah wawancara singkat dengan pekerja difabel (tuna runggu) untuk mengetahui pengalaman para difabel saat melamar pekerjaan. Kesulitan yang ditemui oleh Panji saat mencari pekerjaan adalah persaingan yang ketat. Dia menyadari bahwa sulit melamar pekerjaan yang umum (bukan pekerjaan khusus difabel) karena harus berlomba-lomba dengan pelamar yang normal. Umumnya pekerjaan di Carrefour yang ada lowongan khusus difabel, dan juga di Wikimedia. Untuk pekerjaan di perusahaan/organisasi lainnya umumnya sulit jika ditambah dengan adanya persyaratan untuk kemampuan (skil) tertentu. Hal yang paling menantang lagi menurut Panji adalah memilih penyedia pekerjaan yang baik dan jujur. Katanya ia pernah tertipu karena melamar di perusahaan bohongan. Saat wawancara ia dimintai sejumlah uang. Karena itu, ia semakin hati-hati dalam memilih perusahaan penyedia pekerjaan. Mengenai informasi lowongan pekerjaan, informasi mengenai ini Panji memperolehnya via DNetwork, di mana di sana dalam sehari pasti ada beberapa lowongan pekerjaan yang masuk. Dari sanalah ia menyaring lowongan pekerjaan yang menurutnya bagus dan terpercaya. Kalau Irfan, sebelumnya ia mendapat informasi di grup Facebook, namanya Gerkatin. Di situ adalah tempat berkumpul rekan disabilitas dan juga tempat berbagi bermacam-macam informasi, termasuk lowongan pekerjaan. Sejauh ini, menurut Panji tidak sulit untuk melamar pekerjaan setelah ia mendapat informasinya. Ia hanya tinggal mengirimkan surel surat lamaran ke surel penyedia pekerjaan lalu menunggu jawaban. Kadang-kadang dari sepuluh lamaran yang dikirim, hanya 3 yang dijawab oleh penyedia pekerjaan. Harapan dari Panji dan Irfan untuk ke depan adalah semoga Pemerintah dapat membantu menyediakan pekerjaan untuk rekan disabilitas, atau paling kurang dapat menyediakan layanan informasi terpusat untuk informasi lowongan pekerjaan. Menurutnya, beberapa penyedia informasi lowongan pekerjaan ini kadang-kadang berselisih dalam memberikan informasi lowongan. Apabila anda memiliki perusahaan yang ingin mempekerjakan difabel, harap diingat bahwa pelatihan sangat penting untuk kemampuan bekerja mereka. Silahkan daftarkan perusahaan anda via Kerjabilitas.com ataupun DNetwork.  

Berita dari tangan anda ke meja redaksi - Tabloid Jubi Hotspot

19 June 2014 0

Tampilan layar Tabloid Jubi HotspotPerkumpulan Jujur Bicara di Jayapura, Papua mengelola tabloid sejak 2010 di  yang diberi nama: Tabloid Jubi. Impian mereka untuk memberitakan masalah-masalah di Papua terkendala oleh luasnya wilayah, buruknya infrastruktur yang berakibat langsung menjadi mahalnya liputan berita. Maka perkumpulan ini memanfaatkan warga untuk memberi laporan via SMS. Setelah menggulirkan upaya ini melalui tim kecil mereka, kendala utama yang dihadapi adalah "sampah informasi", banyak informasi berupa "surat kaleng" yang sulit untuk diverifikasi dan tidak dapat masuk menjadi berita di Tabloid. Karena itu Tabloid Jubi hanya memiliki tim kecil yang dipercaya untuk mengirimkan informasi untuk dicetak sebagai berita. Walaupun begitu mereka tetap ingin memperluas wilayah liputan untuk keadilan informasi. Karena itu setelah menerima hibah dari Ciptamedia pada bulan Agustus 2014, mereka mulai bergerak dan memperluas wilayah liputan dengan melakukan kampanye dan pelatihan di Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Puncak, Kabupaten Lani Jaya, Kabupaten Nabire, Kabupaten Mimika, Kabupaten Merauke, Kabupaten Biak-Numfor, Kabupaten Sorong, Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Jayapura. Namun antusiasme warga juga datang dari wilayah non target seperti Teluk Wondama, Teluk Bintuni, Supiori, Sorong Selatan, Paniai, Dogiyai. Perkumpulan Jubi pun mengoptimalkan seluruh sumber daya yang dimiliki untuk dapat memverifikasi laporan warga, dimana verifikator lokal di wilayah target juga bertanggung jawab untuk memverifikasi laporan warga dari wilayah non-target yang terdekat dengan tempat bertugasnya. Untuk mengatasi persoalan geografis, proses verifikasi dilakukan dengan mengandalkan teknologi komunikasi telepon seluler. Gambar diatas mengilustrasikan proses dari laporan via SMS yang dimasukkan warga hingga diverifikasi, berita via SMS ini kemudian muncul pada situs arus utama seperti Bintang Papua dan Suara Pilar Demokrasi. Nah, sudah siapkah anda untuk ikut berpartisipasi dalam menyuarakan kejadian kejadian disekitar anda via SMS?  

Analisa Kerjabilitas.com

19 June 2014 0

Rachmat Wahidi (kanan) sedang mencoba mesin digitalisasi saat diskusi dengan John Vandenberg Rachmat Wahidi bekerja pada Wikimedia Indonesia sebagai Pengawas Digitalisasi Konten, pada posisi ini Rachmat memiliki lima pekerja dibawahnya yang ia awasi langsung. Dua orang asisten teknis pemindaian dan tiga orang penguji baca. Tiga dari lima anak buah yang diawasi Rachmat adalah difabel (tunarunggu). Selama ini Wikimedia Indonesia telah dibantu oleh DNetwork dan dalam mengembangkan sayapnya mencari pekerja yang berkualitas, Wikimedia juga mencoba situs Kerjabilitas.com dan berikut adalah analisis dan masukan Rachmat mengenai platform ini:
  1. Fitur yang ditawarkan oleh situs web tersebut sangat baik, di mana penyedia lowongan pekerjaan dan pencari pekerjaan memiliki halaman pengguna yang berbeda sehingga memudahkan bagi pihak penyedia memasukkan data lowongan dan pencari untuk mencari kata kunci lowongan yang diinginkan.
  2. Formulir isian lowongan pekerjan juga mudah digunakan. Saya terkesan dengan adanya “Pratayang” sebelum menyimpan informasi lowongan, sehingga memudahkan untuk melihat kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki sebelum menyimpan.
  3. Fitur “Lihat kandidat” menurut saya sangat bagus, di mana penyedia lowongan pekerjaan dapat melihat-lihat siapa saja yang mungkin dapat direkrut untuk lowongan pekerjaan yang disediakan. Mungkin untuk ke depan, Tim Kerjabilitas dapat menyediakan fitur untuk menyaring calon kandidat berdasarkan disabilitasnya, selain hanya nama dan lokasi.
  4. Untuk rekan disabilitas yang mencari lowongan pekerjaan, mereka dimudahkan dengan adanya layanan untuk menjalin pertemanan dengan sesama rekan disabilitas dan juga adanya layanan saran dari situs web untuk perusahaan yang mereka minati. Dengan sekali klik, surat lamaran pelamar akan langsung terkirim ke surel penyedia pekerjaan sangat menarik.
  5. Hal yang terpenting adalah informasi lowongan dapat langsung tersebar ke rekan-rekan disabilitas dibandingkan jika informasi lowongan tersebut hanya tercantum di situs web organisasi/perusahaan penyedia pekerjaan.
  6. Jika memungkinkan, ke depannya mungkin informasi lowongan pekerjaan di Kerjabilitas.com dapat diakses secara publik. Dengan demikian pranala informasi lowongan pekerjaan itu dapat dibagikan secara publik dan tentunya dapat mengampanyekan situs web Kerjabilitas.com. Bagi yang berminat untuk mengirimkan lamaran, baru mereka diajak untuk mendaftar.
  7. Dan jika memungkinkan, setiap bulannya, ada newsletter mengenai rekan-rekan disabilitas yang telah diterima bekerja yang dipostingkan di halaman khusus (blog Kerjabilitas) untuk menarik minat rekan disabilitas lainnya.
Nah, apakah anda memiliki rekan, teman difabel yang membutuhkan pekerjaan? Kerjabilitas.com berlokasi di Yogyakarta, atau yang lebih penting lagi apakah anda mengetahui perusahaan yang dan mungkin anda bisa membantu menginformasikan platform pencari kerja ini kepada mereka.

Tantangan dalam Mengembangkan Desa 2.0

19 June 2014 0

324-Desa-2-0-Sistem-Tata-Kelola-Sumber-Daya-DesaYanuar Nugroho sebagai mentor dalam proyek Desa 2.0 mengatakan, program Desa 2.0 memiliki dampak yang sangat besar pada perubahan tata kelola pemerintahan desa bila diaplikasikan dengan pendekatan yang benar. Program Desa 2.0 sejalan dengan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014, khususnya mengenai keharusan desa untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas melalui sistem informasi desa.

Untuk mendorong pemerintah desa menyebarluaskan isu-isu pedesaan, Gerakan Desa Membangun (GDM) sebagai penyelenggara proyek membuat aplikasi yang bisa diunduh melalui Google Play. Aplikasi ini berisi informasi dan kegiatan desa-desa di Indonesia. Selain itu, GDM juga mengadakan lokakarya Desa 2.0 di delapan kabupeten mulai dari Pesawaran, Cilacap, Madiun, Ciamis, Banyumas, Majalengka, Tasikmalaya sampai Indragiri Hilir. Lokakarya ditargetkan hanya diikuti oleh 6 desa, tetapi pada kenyataannya diikuti oleh 8-15 desa. Hal itu menunjukkan antusias pemerintah desa yang besar untuk menerima program Desa 2.0.

Sayangnya, antusias tersebut tidak diimbangi dengan pengetahuan dan keterampilan penguasaan piranti pendukung program yang baik, seperti penguasaan komputer, internet dan pemetaan permasalahan desa. Pemerintah desa terbiasa melaksanakan program dengan pendekatan atas ke bawah sehingga memandulkan inisiatif untuk mengambil dan mengembangkan program secara mandiri. Selain itu, kemampuan mereka dalam mendokumentasikan kegiatan masih sangat rendah sehingga perlu ada pelatihan menulis atau dokumentasi secara khusus, bukan sekadar salah satu materi dalam rangkaian pelatihan. Infrastruktur telekomunikasi di desa-desa juga sangat minim sehingga pelatihan sering terkendala mati listrik, tidak ada akses internet, kalaupun ada aksesnya sangat lambat.

Oleh karena itu, perlu strategi pendampingan pemerintah desa baik penguasaan teknis maupun pemahaman mengenai pentingnya Desa 2.0 dalam mendorong keterbukaan tata kelola pemerintahan dan sumber daya desa. Program Desa 2.0 juga harus diangkat ke level nasional sebagai kesadaran public (public awareness). Salah satu caranya dengan mendesak pemerintah (kominfo) menyiapkan infrastruktur IT memadai sampai ke level desa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *