OpenBTS: Jembatan Untuk Kesenjangan Infrastruktur Telekomunikasi Ponsel

OpenBTSOpenBTS adalah singkatan dari Open Base Transceiver Station, berbeda dengan yang “tertutup” (dirujuk dengan BTS saja), OpenBTS memungkinkan ponsel GSM untuk mengirim pesan dan menelepon tanpa menggunakan jaringan operator seluler komersil, sehingga daerah terluar, terdepan dan tertinggal (3T) di Indonesia bisa ikut berdaya dengan kemampuan berkomunikasi via ponsel.

Sederhananya, OpenBTS ini adalah alat penerima dan penguat sinyal dan dapat dimanfaatkan oleh daerah 3T untuk lebih maju. Mungkin anda bertanya, mengapa operator seluler komersil tidak sampai menjangkau daerah 3T? Bukannya mereka diuntungkan dengan “berjualan pulsa?”, kenapa harus pakai OpenBTS?

Tahukah anda bahwa investasi untuk menara BTS biasanya mencapai milyaran rupiah, dan untuk benar-benar bekerja menara tidak cukup satu dan kontur daerahnya sangat menentukan.

Daerah 3T biasanya tidak padat penduduk, hingga investasi ini bisa jadi “tidak balik modal”, jadi boro-boro bisa untung. Sementara harga OpenBTS hanya dibandrol 17,5 juta rupiah (versi non-komersil dengan jangkauan 7 meter) dan 300 juta rupiah (versi komersil dengan jangkauan 30 km).

Salah satu penerima hibah Cipta Media Seluler, Handri Santoso dari Universitas Surya yang memberikan pelatihan OpenBTS gratis, mensyaratkan peserta pelatihan menulis tentang kesenjangan infrastruktur jaringan seluler di Indonesia, baik dari segi regulasi, teknologi maupun sosial budaya.

Dua macam pelatihan ditawarkan, yaitu pelatihan dasar dan pelatihan instalasi. Pada pelatihan dasar peserta akan diberikan materi mengenai apa itu OpenBTS dan apa manfaatnya. Sementara itu, pada pelatihan instalasi mereka akan diberikan simulasi bagaimana memasang perangkat OpenBTS. Onno Purbo, sebagai mentor mengawasi sendiri pelatihan ini.

KAMPUNG-NELAYAN

Sejak 2011, Onno sudah banyak mengadvokasikan pengggunaan OpenBTS dalam menanggulangi kesenjangan infrastruktur dalam berkomunikasi menggunakan ponsel. Kesenjangan ini sangat nyata, sebagaimana diceritakan oleh Pramudi Widodo, peserta asal Magelang dimana desa tempat tinggalnya, Kembaran, memiliki banyak tanjakan dan turunan yang curam, jaringan telepon dari Telkom belum masuk. Tanpa jaringan komunikasi yang memadai masyarakat tidak berdaya. Cerita sedih yang sama juga datang dari Desa Mbutuh, Purworejo. Dimas Priambodo, peserta lain, menuturkan bahwa kontur desa dengan banyak pepohonan dan sawah membuat sinyal sulit untuk masuk. Walaupun di desanya ada menara pemancar sinyal seluler (BTS) komersil, dan letaknya sangat jauh dari tempat tinggalnya, hingga mengirim SMS saja harus mengangkat ponsel tinggi-tinggi bahkan sampai naik ke atap rumah. Dua cerita ini masih dari Jawa, yang notabene penuh dengan menara BTS komersil, bisa anda bayangkan kalau beberapa bagian daerah Jawa saja masih mengeluh, bagaimana dengan daerah Timur Indonesia? Dengan OpenBTS warga di daerah sulit sinyal bisa membangun sistem komunikasinya secara independen.

Walaupun diatas kertas terlihat sederhana, bahwa tantangan daerah 3T adalah membangun OpenBTS, pada kenyataannya aplikasi OpenBTS di Indonesia tidak sesederhana itu. Mari simak artikel selanjutnya: perjuangan Onno Purbo dalam mengaplikasikan OpenBTS di Indonesia.

 

 

 

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Print this pageEmail this to someone

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *